Senin, 04 Juni 2012

Renungan Hari Ke 7 Ramadhan

RAMADHAN SYAHRUL IBADAH

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Sudah enam hari puasa Ramadhan dilaksanakan dengan tuntas sesuai dengan kemauan dan kemampuan kita masing-masing, semoga waktu yang berlalu itu bernilai pahala dari Allah dan waktu Ramadhan yang masih tersisa dapat kita selesaikan dengan baik,kita masuki hari ketujuh ini dengan semangat semakin membara walaupun letih, lapar, haus mendera kita, tentu kita berharap Ramadhan ini adalah Ramadhan yang terbaik sepanjang sejarah yang kita lalui, agar menjadikan Ramadhan terbaik, kata kuncinya adalah "Andaikata ini Ramadhan terakhir yang kita lalui" sungguh luar biasa kesungguhan aktivitas Ramadhan kita lakukan, wajar bilah Rasul menyatakan,"Shalatlah seolah-olah ini adalah shalatmu yang terakhir", kita motivasi diri ini,"Puasalah seolah-olah puasa ini adalah puasa terakhir dalam hidup kita".

Tentu hal itu memperkencang langkah kita untuk shalat tarawih, tilawah qur'an, tahajud, berbuka dan sahur bersama keluarga, tidak ada waktu untuk berleha-leha, kecuali untuk beribadah kepada-Nya, karena Ramadhan itu adalah Syahrul Ibadah.


Rasulullah Saw telah memberikan makna yang khusus bagi bulan Ramadhan dan bulan Ramadhan itu merupakan peluang emas untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Oleh karena itu jika datang bulan Ramadhan, Rasulullah Saw menyambut kedatangannya dengan mengucapkan “Marhaban ya Ramadhan” Selamat wahai Ramadhan.

Kemudian Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kamu mempuasakannya” [HR. Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi].

Didalam hadits lain diterangkan,”Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu dari segala bulan, maka hendaklah kita mengucapkan selamat datang kepadanya, telah datang bulan puasa dengan membawa segala rupa keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang ini” [HR.Ahmad].

Kedatangan bulan Ramadhan bagi ummat beriman ibarat menanti kedatangan seorang yang telah lama dirindukan untuk berjumpa. Sebelas bulan telah berlalu dengan segala suka dan duka, kadangkala iman itu naik sehingga mampu melakukan aktivitas ibadah sebaik-baiknya, kadangkala imanpun turun yang menyebabkan turun pula amaliah ibadah hamba Allah. Dengan datangnya Ramadhan, maka ummat islam terangsang kembali untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah dengan menyemarakkan bulan Ramadhan bersama beberapa ibadah wajib, sunnah atau berbuat ihsan lainnya, Allah Swt berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa’’[Al Baqarah 2;183]

Derajad taqwa akan dimasuki manusia melalui berbagai jenjang dan proses, yaitu muslim, mukmin, muhsin,mukhlis dan muttaqin. Tetapi dalam bulan Ramadhan, Allah memberi kesempatan untuk memenuhi jenjang taqwa hanya melalui puasa, yaitu puasa yang dilakukan penuh keimanan dan perhitungan.

Ramadhan disebut juga dengan syahrul ibadah, yaitu bulan ibadah bagi manusia yang mau dan mampu memanfaatkan kehadiran bulan Ramadhan, sangat sia-sia jika sebelas bulan berlalu menantikannya lalu setelah hadir tidak dimanfaatkan. Di luar bulan Ramadhan mungkin kita tidak teratur bahkan sering terlalaikan melakukan shalat wajib atau tidak ada kesempatan melakukan puasa sunnah seperti puasa Senen dan Kamis. Dengan datangnya bulan Ramadhan, ibadah utama itu dilakukan dengan senang hati karena jaminan pahala yang diberikan-Nya.

Di bulan Ramadhan, amal-amal kita seperti hari-hari lain yang nilainya berbeda, karena Allah akan menilai pahala orang-orang yang berpuasa dengan berlipat ganda, dan Allah saja yang akan menilainya dan membalasnya. Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi,”Siapa saja berpuasa di bulan Ramadhan dan mengetahui segala batas-batasnya serta memelihara diri dari segala yang baik,dipelihara diri dari padanya,niscaya puasanya itu menutupi dosanya yang telah lalu”.

Perumpamaan diatas menunjukkan betapa ummat yang beriman merasa bahagia akan kehadiran Ramadhan, karena kehadirannya itu akan membawa kebahagiaan serta beberapa hikmah yang ditinggalkan Ramadhan itu dalam jiwa seseorang. Sebelas bulan selain bulan Ramadhan barangkali orang tidak ada kesempatan untuk mendirikan shalat malam, sangat jarang membalik Al Qur’an apalagi membacanya, tidak pernah berzikir kepada Allah, dan lain-lain amalan sunnah yang tidak dilakukan dibulan Ramadhan. Dengan datangnya bulan Ramadhan orang terangsang kembali untuk berbuat amal sunnah sebanyak-banyaknya. Ibadah shalat wajib yang dilakukan diluar bulan Ramadhan dinilai pahalanya hanya satu, tapi bila dilaksanakan di bulan Ramadhan maka pahalanya berlipat ganda.

Shalat sunnah yang dikerjakan di luar bulan Ramadhan akan dinilai sebagai ibadah sunnah, namun bila dilakukan dalam bulan Ramadhan maka akan dinilai sebagai ibadah wajib. Memberi sedekah, infaq dan santunan kepada orang yang berhak menerimanya akan dinilai tinggi di hadapan Allah Swt. Memberi jamuan buka puasa kepada orang yang berpuasa akan memperoleh pahala dari Allah, sama dengan ibadah orang yang berpuasa, Nabi Muhammad Saw bersabda,”Siapa saja yang memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala yang diperoleh oleh orang yang puasa itu, tidak kurang sedikitpun” [HR. Ahmad].

Kesempatan ini hanya diberikan di bulan Ramadhan, bukan di bulan-bulan lainnya, karena bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan keistimewaan. Syahrul Ibadah yang merupakan keistimewaan bulan Ramadhan tidak bermakna bila tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan landasan iman dan perhitungan, yaitu menjauhkan hal-hal yang dapat merusak dan menodai ibadah puasa.

Rasulullah menerangkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Tabrani.”Betapa banyak orang-orang yang berpuasa yang diperolehnya dari puasanya itu hanyalah lapar dan haus; dan berapa banyak juga orang yang mendirikan shalat malam, yang diperolehnya dari shalat malamnya itu hanyalah berjaga malam saja” [SKJ No.141 Maret 1993].

Renungan Hari Ke 6 Ramadhan

ISLAM DAN INTEGRITAS PRIBADI
Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Hari keenam bulan Ramadhan ini sudah banyak undangan yang mengajak untuk ifthar jama'i [buka puasa bersama], siapa saja yang ketemu apalagi sahabat karib, teman se kantor, teman yang sudah lama tidak bertemu, umumnya selain menanyakan tentang kondisi pribadi dan rumah tangga, juga mengaajak untuk berbuka bersama sambil silaturahim ke kediamannya, begitu indahnya Ramadhan, ajakan buka puasa mendatangkan kebaikan selain silaturahim juga mendapatkan pahala dari Allah,bahkan nabi menyatakan bahwa memberi buka puasa kepada orang lain sama pahalanya dengan orang yang berpuasa, renungan ramadhan kita pada kesempatan ini adalah Islam dan integritas pribadi, selamat menikmati..

Islam berbicara tentang berbagai hal, baik yang besar sampai pada yang kecil sekalipun. Sebagai muslim diharapkan kita memiliki pemikiran yang mengacu kepada Islam, janganlah seperti orang-orang sekuler dan orientalis memandang islam, dengan memberi cap negatif terhadap islam dan ummatnya dengan beberapa julukan seperti ektrim, fundamenalis, fanatik serta julukan lain yang menyesakkan dada kita.

Sebagai muslim jauhkanlah diri kita dari pemikiran yang tidak layak muncul, seolah-olah tidak mengerti dengan islam atau memang demikian pemikiran aslinya akibat kontaminasi dan ilfiltrasi pemikifran di luar islam. Benar apa yang disinyalir oleh para ulama bahwa barat dalam memerangi islam tidak dengan militer saja, dengan ini mereka telah gagal, maka ditemukan metode baru yaitu melalui ghazwul fikri yaitu perang pemikiran, perang konsep dan perang idiologi.

Islam Dienul Ilmu dan Amal
Islam adalah agama yang kaffah artinya integral yaitu menyeluruh,segala persoalan hidup dalam duniaini diatur oleh islam, dia bukanlah agama parsial yang hanya membicarakan akherat atau dunia saja, menekankan satu hal lalu melupakan yang lain. Dari segi ilmu pengetahuan islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa ilmu dan iman mempunyai hubungan yang erat, semakin tinggi ilmu seseorang semakin tinggi pula imannya yang sekaligus mempengaruhi kualitas serta kuantitas amal shaleh yang dilakukan;
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”[Fushilat 41;53]


Amal tanpa ilmu dan iman akan bernilai sia-sia, ilmu tanpa amal dan iman tidak berguna, iman tanpa ilmu dan amal hanya fatamorgana. Untuk itulah dalam ajaran islam pemeluknya dituntut agar selalu meningkatkan ilmu hingga belajar sampai ke negeri Cina, meninggikan kualitas iman karena hidup ini penuh dengan segala ujian dan tantangan, tanpa iman yang kuat dan istiqamah maka hancurlah kehidupan manusia itu dan sekaligus memperbanyak amaliyah ibadah dalam arti yang luas yaitu segala aktivitas dalam rangka mencari ridha Allah, sesuai dengan minhaj [sistim]-Nya dan ikhlas niatnya, itulah ibadah;
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”[Al Isra’ 17;36].

Demikian pentingnya ilmu pengetahuan bagi seorang muslim, bukan ilmu agama saja tapi semua ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan, bahkan lebih jauh Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang ingin memperoleh ke aikan di dunia maka raihlah dengan ilmu, barangsiapa yang akan mencari kebaikan di akherat maka kejarlah dengan ilmu dan barangsiapa mau mencapai keduanya maka raihlah dengan ilmu” Titik tekan ilmu pengetahuan itu penting bagi seorang muslim dan bahkan difardhulan oleh Rasulullah,”Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimah”

Walaupun ilmu dan iman cukup memadai bahkan tinggi dan itu suatu modal untuk kehidupan, akan tetapi nilai manusia di hadapan Allah tidak mutlak ditentukan oleh ilmu dan iman. Banyak orang yang berilmu dengan titel dan gelar serenceng tapi di hadapan Allah dia tidak berharga sebagaimana teknokrat Fir’aun. Dan tidak sedikit orang yang punya iman sebagaimana Fir’aun dan Iblispun menyatakan dirinya beriman kepada Allah, tapi semua itu tidak berharga ketika amalnya dalam asfek kehidupan sehari-hari tidak ada, Allah berfirman;
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan”[At Taubah 9;105].

Kewajiban Memahami dan Menerapkan Islam
Islam bukanlah agama yang hanya mengatur urusan akherat saja dan tidak pula memprioritaskan pada pembinaan mental, tapi seluruh asfek kehidupan dibicarakan oleh islam dan setiap muslim dituntut untuk menerapkannya secara kaffah yaitu menyeluruh secara integral bukan parsial. Kaffahnya islam mencakup Ipoleksosbudhankamnas yaitu idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan [2;208]

Bila kita tidak masuk islam secara kaffah atau integral maka berarti mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan mengajak manusia untuk berfikir, bertindak dalam asfek islam ini secara parsial atau sektoral. Sedangkan Allah memberi cap kepada pengikut syaitan dengan sebutan murtad [3;100-101].

Agar pemahaman kita terhadap islam dapat sebagaimana yang diharapkan Allah yaitu integral bukan sektoral bisa dicapai dengan mengadakan kajian-kajian melalui majelis ta’lim yang dilakukan secara istimroriyah yaitu berkesinambungan, bila hanya mengandalkan dari ceramah dan khutbah, yang memang waktunya sangat terbatas dan kajiannyapun umum, jelas tidak akan tercapai target yang diharapkan. Itulah makanya da’wah hari ini lebih banyak jalan ditempat daripada melaju bahkan tidak sedikit da’wah itu merosot, ironinya semakin banyak da’wah digelar semakin jauh ummat dari islam, evaluasi besar-besaran perlu kiranya kita lakukan baik program da’wah,da’i bahkan ummat islam secara keseluruhan demi perbaikan da’wah dan ummat dimasa yang akan datang, sehingga integritas pribadi dapat dimunculkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pembinaan terhadap da’i dan mubaligh, penyadaran dan pengkaderan generasi islam yang militan untuk masa depan perlu diperkencang dan penyadaran beragama dan berislam perlu kita tumbuhkan sehingga negara yang mayoritas muslim ini tidak ragu-ragu lagi untuk menerapkan syariat islam. Peluang itu kapan saja ada, apalagi dalam bulan Ramadhan yang memiliki berbagai keutamaan sehingga untuk bicara islam dan kebaikan lainnya orang tidak segan dengan alasan karena ini bulannya.

Kesempurnaan Syari’at Islam
Sudah saatnya kita memunculkan kembali agar syariat islam dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bernegara, karena sekian kali undang-undang manusia yang dipakai di negara ini selalu mengalami kegagalan karena semua itu rekayasa dan buah fikiran manusia, sedangkan islam adalah syariat yang diturunkan Allah melalui wahyu-Nya yang telah sempurna disyariatkan dan abadi untuk dijalankan, sebagaimana Allah firmankan dalam surat Al Maidah 5;3
‘’Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu”

Tergantung kepada usaha kita lagi untuk membumikan syariat islam ini melalui penyebaran da’wah dan penyadaran ke tengah-tengah masyarakat sehingga akhirnya tidak ada alternatif lain untuk menyelamatkan ummat ini dari segala krisis dan kemelut selain menerapkan syariat islam,setiap muslim sangat merindukan agar syariat islam itu tegak di negeri ini yang diawali dari keluarga sebagai mana yang disampaikan oleh Dr.Abdullah Azzam “Tegakkan Islam di dirimu niscaya dia akan tegak di negaramu”, wallahu a’lam.[Solok, 13062000]

Renungan Hari Ke 5 Ramadhan

KEPEDULIAN REMAJA TERHADAP AGAMA

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Waktu bergulir memasuki hari kelima Ramadhan, tanpa terasa beratnya hasrat untuk bangun pagi sekitar satu jam sebelum sahur sudah menjadi hal yang biasa, kantuk yang bergelayut bukan lagi halangan untuk bangkit dari tidur, dingin yang menggigit tulang sumsum bisa diterpa dengan jaket yang agak tebal, awalnya melihat air dan merasakan dinginnya untuk bersuci agak membuat ciut nyali, tapi harus dilakukan sedingin apapun juga, Alhamdulillah semuanya dapat dilakukan dengan baik, rakaat demi rakaat telah diselesaikan, sujud dan rukuk menambah hangatnya tubuh ini. itulah berkahnya Ramadhan, yang tidak mungkin dilakukan diluar Ramadhan dapat dilaksanakan dengan baik, karena rahmat dan berkah dari Allah.

Seharusnya membiasakan yang baik itu memang harus dilakukan kapan saja agar setiap waktu aktivitas yang dilakukan hal-hal yang positif, kepada anak-anak yang dibiasakan berbuat baik akan menjadikannya kelak seorang muslim yang baik, shaleh dan shalehah, bila sejak awal anak-anak dan remaja dibiasakan untuk peduli dengan agamanya maka kelak dia akan jadi anak yang sangat peduli, bila Ramadhan dia biasa bangun pagi maka kelak tidak akan kesiangan lagi subuhnya, bila sejak di bulan ini anak diajak untuk ke masjid maka kelak dia tidak akan canggung dengan aktivitas religius di masjid, sejak awal anak dan remaja memang harus dibiasakan dengan aktivitas agama seperti puasa, tarawih, berbuka, sahur, tilawah qur'an dan shalat berjamaah.


Kelahiran manusia di bumi ini bukanlah secara kebetulan, akan tetapi rencana matang dari Khaliqnya, bukan pula sekedar bernafas, makan minum, mencari harta, punya anak kemudian meninggal lalu habis perkara dan tidak ada masalah lain ? kalau hanya sekedar demikian tujuan kehidupan ini sangatlah sepele rencana Allah bahkan layak disebut rencana yang sia-sia, akan tetapi sebaliknya manusia hadir di dunia ini menyandang tugas yang begitu mulia untuk dilaksanakan dan diperjuangkan dalam sebuah pengabdian, penyembahan dalam segala aktivitas kehidupan, aktivitas ini harus bersentral kepada iman, yang diasah dan diasuh sejak usia dini sampai remaja, bahkan hingga kematian menjemput manusia, Allah berfirman dalam surat Ali Imran 3;79;
”Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Remaja yang sejak kecil telah terbiasa mengenal Allah , maka dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah tidak menunda waktu seperti nanti saja kalau sudah punya pekerjaan, besoklah kalau sudah punya isteri atau lusa bila usia telah tua memanggil. Ramadhanpun dijadikan waktu yang tepat untuk berbuat baik dan membina diri, kegiatan didalamnya dilaksanakan seoptimal mungkin sebagai arena mentraining diri hingga menjadi kebiasaan dihari-hari berikutnya.

Persepsi ini sering hadir di tengah-tengah masyarakat kita terutama dikalangan remaja yang belum menyadari makna kehidupan, apalagi orangtua dan lingkungannya tidak menanamkan sejak dini nilai-nilai positif [agama]. Kegiatan agama masih dianggap sebagai pekerjaan yang pantas untuk mereka dalam usia tua, dengan terbatuk- batuk dan terbungkuk-bungkuk sebagai pertanda pintu kubur diambang telah dekat. Lebih parah lagi syurga dan neraka mereka anggap sebuah kayalan konyol, kehidupan dianggap sebagai tempat permainan yang tidak diperhitungkan kalah menangnya, yang tidak perlu diraih serta diperjuangkan dengan kekuatan. Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah semboyan kehidupan anak muda yang tidak terbimbing, mereka hanya berkhayal untuk mendapatkan yang lebih baik tanpa usaha dan kerja keras, apa kata mereka ?

”Ketika kecil dimanja-manja, setelah besar kaya raya, saat tua berfoya-foya, kalau mati masuk syurga” atau ”kelapa muda kupas-kupasin, kelapa tua keras batoknya, masa muda puas-puasin, dikala tua tinggal bongkoknya”.

Di dunia dapatlah mereka mereguk kemanjaan dan kesenangan dari orangtua walaupun tidak berbuat apa-apa tetapi bagaimana dapat meraih syurga yang begitu mulia, apa mereka mengira syurga itu milik orangtua atau kepunyaan nenek moyangnya, orang bijak pernah berucap,”Jangan kau fikirkan tentang syurga, fikirkanlah bagaimana jalan menuju ke syurga itu”.

Kesadaran tentang agama inilah yang harus ditanamkan kepada remaja untuk menciptakan remaja yang mau bekerja, bersaing dengan prestasi mencapai cita-cita, bekerja dan berjuang tadi akan lebih membangkitkan semangat bila diterjemahkan dalam bentuk pengabdian kepada Allah sehingga dalam kegiatan apapun dia tidak menganggap kesia-siaan walaupun kegagalan sedang dihadapi, bukankah Allah menilai usaha seseorang bukan hasil dari usaha itu.

Pada akhir-akhir ini remaja yang tidak dirintis sejak kecil untuk mengerti tentang agama, banyak kegiatan yang mereka lakukan menyimpang dari norma dan nilai-nilai agama dan sebaliknya yang terdidik dalam gemblengan agama banyak melakukan kegiatan bermanfaat dan menunjang bagi kehidupannya seperti diskusi, pengajian, akktif di RISMA [remaja masjid], pesantren kilat, rohis dan lain-lainnya.

Kepedulian remaja kepada agama tercatat dalam organisasi islam dan masjid, karang taruna dan segudang aktivitas lainnya. Sesungguhnya berdasarkan pesan Al Qur’an surat At Taubah 9 ayat 18, para pengurus dan remaja masjid juga mempunyai tanggungjawab yang sama dengan orang mukmin pada umumnya dalam tugas memakmurkan masjid;
”Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapatpetunjuk”.

Sebagai elemen dari orang yang beriman, maka di tangan remaja dan pemuda ada tanggungjawab untuk menjadikan masjid sebagai tempat kegiatan yang menarik seperti diskusi, seminar, i’tikaf, pesantren Ramadhan dan lain-lain sehingga ramai dan semarak, penuh kegiatan keagamaan yang pada dasarnya menjadikan masjid lebih berfungsi bagi pengembangan sayap syi’ar islam dan pengkaderan generasi Rabbani.

Agaknya bila diperhatikan pada akar sejarah masa silam; terutama pada masa nabi dan para sahabat; masjid pada waktu itu mengesankan, amat makmur. Masjid telah dijadikan sebagai bukan untuk menunaikan shalat berjamaah saja melainkan seluruh kegiatan yang ada keterkaitannya dengan pengembangan dan penyerakan syiar islam banyak dibahas dan diselesaikan di dalam masjid, sehingga meskipun pada waktu itu belum ada organisasi remaja masjid, tetapi keadaan masjid jauh lebih makmur dan semarak dibandingkan saat sekarang ini [Majalah Serial Khutbah Jum’at no.116]

Kita mengharapkan di masjid akan muncul tokoh-tokoh muda yang punya tanggungjawab terhadap ummatnya sebagaimana generasi terdahulu, tokoh muda yang kita maksud adalah seperti tampilnya Yahya-Yahya baru diabad ini yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap agama, Allah menggambarkan pribadi Yahya sebagaimana firman-Nya dalam surat Maryam 19;12-14;
”Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka’’.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menggambarkan bahwa nanti ketika di Padang Mashar, seluruh manusia dikumpulkan sejak dari manusia pertama hingga yang terakhir, wakatu itu banyak manusia yang merasa kepanasan yang luar biasa hingga keringatnya sampai keubun-ubun bahkan berenang dengan keringatnya tersebut sebab matahari jaraknya se jengkal saja dengan kepala manusia, akan tetapi terdapat beberapa orang yang tidak merasakan panas, diantara mereka adalah ”remaja yang hatinya selalu terpaut di masjid” dan ”pemuda yang ada peluang untuk berbuat maksiat tapi dia mampu menghindarinya” sungguh bahagia orang-orang ini dikemudian hari.

Sebenarnya remaja, pemuda ingin menampakkan kepada dunia bahwa mereka dapat berbuat, mampu bekerja untuk kepentingan agama islam dan da’wah, bahkan membantu program pemerintah, bangsa dan negaranya, selama orangtua masih memperhatikan dan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar, pendidikan islam kuncinya sebagaimana sabda Rasulullah,”Didiklah anak-anakmu, sebab mereka akan menghadapi suatu masa yang sangat berbeda dengan masamu”, mungkin masa itu lebih buruk, kejam, zhalim dan maksiat berbaur di dalamnya, bila tidak dididik dengan iman dan islam tentu mereka bukan sebagai anak yang berharga di mata kita apalagi di hadapan Allah, lantas anak yang bagaimana yang kita banggakan nanti kepada Rasulullah saat bertemunya ? apakah anak shaleh atau anak thaleh,wallahu a’lam [Solok, 28012000]


Renungan Hari Ke 4 Ramadhan

INTERAKSI MUSLIM DENGAN ISLAM
Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Tiga hari sudah berlalu, kini kita berada pada hari keempat Ramadhan dengan kestabilan fisik dan mental untuk melanjutkan rangkaian ibadah yang sudah diagendakan, shalat taraweh yang dilakukan di masjid, di surau atau di rumah memberikan nuansa indahnya hidup dalam Islam, sekian rakaat mengiringi rukuk dan sujud untuk menunjukkan kerendahan posisi manusia di hadapan Khaliqnya, taraweh membentuk jiwa kebersamaan dan ukhuwah islamiyah karena dilakukan dengan jamaah, suasana tenang dan khusyu' masih ditingkahi pula oleh bunyi mercon dan meriam bambu yang dibunyikan oleh anak-anak muslim yang menjadikan hal itu sebagai tradisi walaupun sebenarnya mereka telah mengganggu jamaah shalat taraweh. sebagai muslim kita memang harus berinteraksi dengan Islam agar faham mana ajaran yang sesuai dengan islam dan mana yang hanya tradisi semata, supaya kita juga dapat membedakan mana yang ibadah dan mana yang adat, selain itu agar keislaman kita benar-benar kaffah artinya total dalam keimanan dan keislaman tanpa dapat dimasuki oleh virus yang datang dari luar islam, apakah adat ataupun barat.

Idealnya seorang muslim adalah mereka yang hidup dalam islam secara kaffah [2;208] yaitu sikap hidup mengislamkan seluruh aktivitasnya serta memahami islam secara integral. Mereka juga adalah orang-orang yang siap mengadakan inqilabiyyah yaitu perombakan total seluruh asfek kehidupannya dari jahiliyyah kepada islam. Muslim yang baik adalah mereka yang tershibghah atau terwarnai oleh nilai-nilai Ilahiyyah [2;138] sehingga tidak ada lagi muslim yang bersifat nifaq, syirik, fasiq dan zhalim.


Namun karena perjalanan sejarah dan panjangnya waktu serta adanya konfirasi untuk merusak tatanan kehidupan muslim, baik dari kalangan syaitan, orang-orang kafir ataupun musuh dari dalam sehingga karakter kaffah, inqilab, shibghah dan Rabbani tidak kita temui bahkan sebagian ummat islam gaya hidupnya tidak beda dengan orang-orang diluar islam, islam yang tinggi hanya ibarat kapal terbang yang meroket di angkasa sementara ummatnya masih merangkak di tanah atau seperti fatamorgana, ummat islam hanya nampak dalam syiar-syiar islamnya tapi esensialnya tidak ada.

Infiltrasi Pemikiran Asing
Orang-orang di luar islam tidak senang bila ummatnya mengamalkan syari’at islam denan baik, hidup rukun dan damai dalam tatanan wahyu Allah sehingga muncullah beberapa konspirasi untuk menjauhkan ummat islam dari ajaran islam tersebut, ini konsekwensi dari perang salib yang menjadikan orang-orang nasrani dan yahudi memendam dendam bahkan sejak awal datangnya islam yang mereka nantikan, nyatanya islam datang bukanlah dari kalangan mereka tapi dari kalangan Quraisy yang mereka anggap rendah dan hina selama ini. Itulah makanya keluar ucapan Robert Zwemer ketika berhadapan dengan para pendeta,”Tugas kalian bukanlah menjadikan orang islam itu masuk ke agama kita, tapi jadikan mereka itu tidak tahu dengan islam, itu sudah cukup”.

Allah sendiri telah menggambarkan bagaimana makar Salibis dan Zionis terhadap Islam, tertuang dalam beberapa ayat;
“ Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka....”[Al Baqarah 2;120]

“…mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup....”[Al Baqarah 2;217].

Dengan program ini wajarlah akhirnya ummat islam sudah jauh dirinya dari pribadi islam itu sendiri, apalagi mereka terserang beberapa penyakit yang disuntikkan oleh musuh yaitu penyakit “wahn” yang digambarkan oleh Rasulullah bahwa nanti umat islam akan dikeroyok oleh ummat lain ibarat makanan yang terhidang di atas meja, serta ummat islam seperti buih yang terdapat di laut yang indah dipandang, bila datang badai dia akan berantakan.

Sahabat memperanyakan ramalan Rasululah tersebut dengan menampilkan kuantitas, tapi Rasul mengatakan bahwa jumlah ummat islam itu mayoritas akan tetapi berlaku tirani minoritas terhadap mereka sehingga mayoritas tidak dapat berkutik lantaran tidak berkualitas, kondisi ini yang diciptakan musuh-musuh islam terhadap ummat islam tanpa disadari, padahal Allah telah mengangkat citra umma ini;
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”[Ali Imran 3;139]

Pada kondisi yang demikian maka kita harus berupaya merubah kondisi ummat ini dengan da’wah dan tarbiyyah sehingga ummat ini dapat berubah. Perubahan pada ummat islam adalah kebutuhan yang bersifat niscaya. Karena ummat islam tidak boleh berada pada kondisi stagnan atau kevakuman. Ia harus beranjak dari suatu keadaan yang lebih baik. Ia harus meninggalkan perpecahan menuju persatuan, membuang kebodohan dan menggantikan dengan pemahaman dan ilmu, mengubah kiblat dari membebek kepada orang-orang kafir menjadi patuh dan tunduk kepada Allah dan Rasulullah. Beranjak dari berfikir dan bertindak parsial menuju berfikir dan bertindak yang konfrehensip dan integral.

Untuk mengantisipasi segala bentuk infiltrasi dan konspirasi untuk menghancurkan islam maka perlu adanya kerja dan daya upaya ke arah mempertahankan diri sehingga ummat ini memiliki immunitas [kekebalan] terhadap makar manapun, Allah mengingatkan kita tentang rencana jahat mereka;
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”[Al Anfal 8;30]

Demikian sulitnya untuk membangun sebuah ummat yang solid sebagaimana yang pernah Rasul bentuk padahal ummat ini sama juga namanya yaitu ummat islam, mungkin benar apa yang dikatakan oleh ulama besar dari Mesir bernama Hasan Al Banna,”Bila anda ingin membangun ummat sebagaimana ummat dizaman Rasul maka bina dan bangunlah sebagaimana cara beliau membangun ummat itu”, artinya mungkin saja kita membangun ummat ini agar baik tapi tidaksesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah. Sehingga persatuan ummat dan kekokohannya dipertanyakan. Mungkin ada baiknya kita merenungkan perkataan bijak dari Rasul Sayyaf, seorang tokoh Mujahidin Afghanistan beberapa tahun silam pernah berkata, tentang kenapa para mujahidin Afghanistan berpecah ,”Kita bukannya tidak mau bersatu, kita mau dan ingin bersatu, namun upaya kita agaknya masih kalah dengan upaya lawan untuk memecah belah kita” [Sabili no.2/Juli 2000].

Interaksi Muslim dengan Islam
Walaupun bagaimana upaya non muslim untuk merusak islam tapi kita dituntut untuk berinteraksi dengan Islam secara intensif sehingga segala infiltrasi mereka dan makar yang mereka lakukan tidak mempengaruhi ummat ini, selam ini kita belum intens berinteraksi dengan ajaran islam sehingga wajar bila ummat ini jauh dari apa yang diharapkan oleh Rasulullah.

Seorang muslim harus berinteraksi dengan islam melalui hatinya sehingga terujud qalbun salim yaitu hati yang sehat, jauh dari penyakit yang dapat merusak hubungan sesama muslim [26;88-89]. Interaksi muslim dengan islam melalui fikiran sehingga menciptakan fikrah shashihah yaitu pemikiran yang benar, tidak terkontaminasioleh pemikiran-pemikiran yang sesat lainnya.

Interaksi perasaan yang membuat syu’ur hamasah islamiyyah yaitu perasaan yang mampu membangkitkan semangat islam yang baik, serta interaksi fisik yaitu interaksi muslim melalui firiknya dengan islam sehingga siap untuk memanggul senjata dan beban jihad untuk membela agama Allah [9;106].

Intinya bila ingin membangun ummat maka jangan melupakan agar umat ini berinteraksi dengan islam seluruh asfek kehidupannya;hati, fikiran, perasaan dan fisiknya sehingga menjadi seorang mukmin yang qawi [kuat] yang dapat mengalahkan musuh Allah dan musuh-musuh orang-orang beriman, salah satu waktu yang tepat untuk membentuknya ada di bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan bulan tarbiyyah bagi ummat ini, wallahu a’lam. [Solok, 24072000]


Renungan Hari Ke 3 Ramadhan

RAMADHAN DAN KETELADANAN
Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Hari ini kita masuk hari ketiga menunaikan ibadah puasa Ramadhan, sudah stabil rasanya fisik dan ruhy menjalankan aktivitas Ramadhan, selain puasa disiang hari, bangun di malam hari untuk makan sahur, sebelum sahur sekian rakaat shalat tahajud, do'a, zikir dan tilawah Qur'anpun menghiasi malam, dahulu ketika belum masuk Ramadhan agak sulit untuk bangun di tengah malam tapi berkah Ramadhan memudahkan kita untuk segera bangun, ringan rasanya menyingkirkan selimut, mudah sekali membuka mata dari dekapan kantuk, sekian ayat bahkan sudah memasuki satu atau dua juz Al Qur'an terbaca, semoga hari-hari Ramadhan ini bisa pula dinikmati kelak saat Ramadhan berakhir, shalat fardhupun dikuatkan hati dan perasaan ini untuk ditunaikan secara berjamaah, itupun diupayakan ke masjid, betapa indahnya Ramadhan ini.

Rasanya sudah sekian kali kita memasuki bulan suci Ramadhan yang diakhiri dengan hari Raya Idul Fitri, kinipun bulan itu sedang kita jalani, sahur, tarawih dan berbuka.agenda rutin seremonial orang yang sedang ibadah ,dengan tidak melupakan tilawah Al Qur’an minimal khatam tiga puluh juz di akhir Ramadhan. Shalat malam walaupun dua rakaat dikala sebelum sahur, shalat dhuhapun tidak dilupakan untuk membuka pintu-pintu rezeki Allah.

Terlalu merugi orang yang berpuasa tidak menggunakan peluang bulan ini untuk menumpuk pahala sebanyak-banyaknya, apalagi imbalannya berkali lipat dibanding hari lain. Pada bulan ini sediki sekali godaan yang mengajak untuk berbuat maksiat, sebab masing-masing figur memberikan contoh dan keteladanan kepada masyarakat, apalagi mereka yang terbilang pejabat dan orang yang terkemuka yang selama ini tidak pernah tampil ke masjid, tiba-tiba nampak wajahnya dengan kalem menyandang sajadah, berpeci hitam dan seakan-akan mereka adalah orang yang paling alim di dunia,”Sesungguhnya dalam pribadi Rasul itu ada contoh teladan yang baik bagimu” [33;21]


Momen yang tepat bagi semua pihak untuk menampilkan figur terbaik kepada masyarakat melalui akhlaqul karimah atau keteladanan melalui ujud pergaulan sehari-hari,”Seorang mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya dari orang yang bergaul dengan manusia dan tidak sabar menghadapi gangguan mereka”[HR.Ahmad]

Seorang mukmin harus bersosialisasi diri dengan masyarakat di sekitarnya apalagi di bulan Ramadhan ini banyak sekali amal-amal yang merupakan ujud kepedulian terhadap sesama seperti memperbanyak infaq, sedekah, mengundang berbuka bersama, shalat tarawih dan aktivitas lainnya.

Seorang ayah dan ibu bagaimana dia mampu menampilkan dirinya kepada anak dan keluarganya sebagai figur yang dapat diteladani, bagus kita menyuruh anak untuk shalat tarawih ke masjid, membaca Al Qur’an dan berinfaq, akan tetapi didikan tadi akan membekas bila lansung orangtua mencontohkannya dengan mengajak anak-anak ke masjid menyemarakkan ibadah Ramadhan. Tidak layak kiranya, bila orangtua melarang anaknya merokok sementara dia sendiri menghabiskan rokok berbatang-batang sehari, terlepas dari rokok itu makruh ataupun haram, yang jelas keuntungan dari penjualan rokok itu disumbangkan duapuluh lima persen untuk mengkafirkan ummat islam melalui program kristenisasi [2;120], berarti kita punya saham untuk memurtadkan ummat islam. Tegakah anda wahai perokok ? sementara asap rokok membubung tinggi ke udara, nikotinnya meresap ke paru-paru, abunya bertebaran ke bumi, keuntungan untuk agama lain sedangkan kerugiannya untuk anda dan ummat islam.

Suatu ketika Hasan Al Bisyri didatangi oleh para budak, mereka mengharapkan agar beliau besok jum’at berkenan menyampaikan khutbah tentang pembebasan budak dan keutamaannya. Mereka sangat antusias sekali akan merdeka bila mendengar fatwa sang ulama sekaliber Hasan Al Bisyri. Dua dan tiga minggu, dua dan tiga bulan hingga mendekati setahun belum juga terdengar fatwa itu, walaupun sang ulama sudah sering pula menyampaikan khutbah dengan tema lain. Tepat satu tahun permohonan pada budak itu dikabulkan oleh Hasan Al Bisyri dengan berapi-api disambut dengan kesadaran oleh para tuan untuk memerdekakan budaknya.

Tentu saja para budak bertanya, kenapa sekarang mereka bisa merdeka ? tidak setahun yang lalu ? sang ulama kharismatik itu menjawab,”Ketika kalian datang kepadaku pertama kali tentang itu, aku tidak berdaya dan tidak mampu menyampaikannya. Sekaranglah baru saya punya uang, tadi pagi saya sudah memerdekakan seorang budak”, itulah sebuah keteladanan yang dicontohkan oleh ulama kita dahulu, masih adakah ulama yang demikian ? kita berhadap diantara kebodohan ummat dan kelemahan ulama masih ada ulama yang mampu tampil dengan uswatun hasanah yaitu keteladanan yang baik.

Sekarang sangat sulit mencari orang yang dapat diteladani, baik orangtua, guru, ulama, politisi atau siapa sajalah, nampaknya keteladanan termasuk barang yang langka. Walaupun satu ketika dia menampakkan keteladanan, tapi semu nampaknya, hanya sebatas mencari simpati dari masyarakat. Inilah keteladanan yang menipu. Seorang sahabat menyatakan bahwa dia mengenal seseorang, maka Rasulullah menyatakan bahwa jangan mudah mengatakan kita kenal dengan seseorang sebelum nampak kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Pernahkah engkau jalan bersama dengannya, makan bersama dengannya dan tidur bersama dengannya. Sahabat itu menggelengkan kepala, berarti kamu tidaklah mengenalnya.

Penampilan seseorang yang sekilas simpatik jangan terpesona dahulu, lihatlah ketika dia sedang makan, sedang dalam perjalanan atau sedang tidur, saat itulah nampak siapa sebenarnya orang yang kita kenal itu. Ada atau tidak ada keteladanan akan nampak pada tiga momen itu, sehingga layak atau malah banyak sekali hal-hal menyimpang dari syariat yang dia lakukan.

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menampilkan keteladanan kepada orang di sekitar kita apalagi anda seorang mubaligh,disamping itu banyak pula kesempatan kita untuk mencari keteladanan di sekitar kita melalui anak dan isteri kita, tetangga, teman sekerja atau siapa saja yang layak untuk itu,”Terimalah kebenaran dari siapapun, meskipun dari tong sampah, tapi tolaklah kebatilan meskipun data1ngnya dari istana yang megah” keteladanan yang komplit hanya ada pada Rasulullah, kenapa cari yang lain, yuk kita tapaki jejak sang idola ini hingga akhir hayat kita, wallahu a’lam. [Mukhlis Denros, Suluah, Tabloid Suara Solinda Solok, 01122001].

Renungan Hari Ke 2 Ramadhan

RAMADHAN DAN PENGARUH LINGKUNGAN
Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



sehari sudah berlalu Ramadhan kita lakukan, memang terasa haus dan lapar, letih dan ngantuknya suasana bulan ini,tapi banyak faedah dan pahala yang diperoleh kelak, Ramadhan merupakan Syahrut Tarbiyah, yaitu bulan pendidikan. kewajiban kita untuk mengajak keluarga tenggelam dalam aktivitas Ramadhan, sejak dari shalat tarawih, makan sahur dan berbuka puasa, membaca Al Qur'an dan kegiatan lain yang intinya menjadikan keluarga kita adalah keluarga yang terbimbing dengan nilai-nilai Ramadhan, jadikanlah lingkungan Ramadhan adalah lingkungan yang indah bagi kelaurga kita sehingga mampu menjadikan mereka anak-anak yang shaleh dan shalehah sehingga target Ramadhan yaitu jadi orang yang bertaqwa dapat dicapai, renungilah bagaimana lingkungan sangat mempengaruhi kepribadian manusia.

Lingkungan keluarga adalah pembina utama dan pertama dalam pembinaan kepribadian anak, kemudian pada umur sekolah pertumbuhan anak dipengaruhi oleh guru, pada usia anak-anak suka hidup bermasyarakat, jika temannya baik maka ia cendrung akan baik. Untuk itu orangtua agar berhati-hati dalam melepas anaknya hidup bergaul pula demikian sebaliknya, sehingga pergaulan bagi sianak akan mempengaruhi pertumbuhannya dengan anak-anak lain, Rasulullah bersabda;

”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman yang jahat ialah bagaikan pedagang minyak wangi dan tukang besi,bila berteman dengan pedagang minyak wangi akan memperoleh salah satu dari dua kemungkinan, membeli minyak wangi atau kena percikan harumnya minyak wangi tersebut, dan berteman dengan tukang besi akan memperoleh dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau memperoleh bau yang tidak sedap”

Lingkungan yang rusak akan menciptakan manusia yang rusak pula sebab si anak dengan mudah meniru tingkah laku temannya, ahli hikmat berkata,”Bila kau berteman dengan pencuri, minimal cara mencongkel pintu dapat kau kuasai dan bila berteman dengan orang alim minimal membaca bismillah kau dapat”.


Dalam Shaheh Muslim dapat kita ikuti sebuah riwayat bagaimana rusaknya manusia bila dia hidup dalam lingkungan yang tidak baik;
Zaman dahulu ada seorang pembunuh yang telah membunuh korbannya sebanyak 99 orang, lalu dia bertanya kepada penduduk negeri, siapa orang yang paling alim di negeri ini, maka ditunjukkan seorang Rahib, didatanginya Rahib itu seraya mengatakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, kemudian dia bertanya, apakah pintu taubat masih terbuka untuknya ? jawab Rahib, tidak. Maka dibunuhnya Rahib itu dan genaplah korbannya 100 orang.

Kemudian dia bertanya pula kepada warga setempat tentang orang yang paling alim di kampung itu, maka ditunjukkan orang kepadanya seorang ulama. Dia menceritakan bahwa ia telah membunuh korbannya 100 orang, apakah pintu taubat masih terbuka baginya, jawab orang alim itu, ya bertaubatlah. Orang alim itu melanjutkan, kalau anda ingin bertaubat atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan, maka sinsaflah dan ikutilah jalan Allah, pergilah anda kesuatu tempat yang disana penduduknya menyembah Allah, sembahlah Allah bersama-sama mereak dan janganlah kembali ke negeri anda, karena negeri anda telah rusak....

Walau seseorang yang jahat kemudian bertaubat maka untuk menjadi orang yang baik dia harus meninggalkan lingkungan yang rusak, mencari tempat baru atau istilah agama hijrah, sebab kalau tidak hijrah taubatnya akan luntur dan lentur kembali. Apalagi bagi anak-anak yang masih mentah lagi fithrah. Sangat diperlukan lingkungan yang harmonis, bi’ah shalihah [lingkungan yang bersih], tertib, aman tentram serta damai, baik di rumah,di sekolah maupun di masyarakat agar menciptakan suasana agamis.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Setiap bayi yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”

Artinya orangtua memegang peranan penting dalam mencetak anak agar jagi anak yang baik, kalau hal ini dilalaikan maka kehancuran manusia akan terjadi, dia akan terseret ke lembah kenistaan dan kemaksiatan karena terjerembab dalam pergaulan lingkungan yang tidak baik.

Jauh sebelumnya Allah telah memperingatkan kepada orangtua agar menyelamatkan pribadi dan keluarga dari hal-hal yang dapat membawa ke neraka, hal ini tercantum dalam surat At Tahrim 66;6
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Salah satu waktu yang tepat untuk mempengaruhi lingkungan dengan aktivitas islami ialah bulan Ramadhan karena fihrah manusia sepakat bila Ramadhan harus dijaga kesuciannya dari hal-hal yang tidak baik sehingga sangat kondusif untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari maksiat yang dapat mempengaruhi anak, yang lebih penting lagi adalah menjadikan lingkungan keluarga yang cocok untuk menanamkan suasana islami apalagi pada bulan Ramadhan, itulah makanya bila masuk Ramadhan keluarga muslim Arab membuat pada spanduk di rumah mereka dengan kalimat ”Marhaban ya Ramadhan, syahrul mubarak”, dan aktif dengan kegiatan yang menunjang kepada kebaikan hingga datang Ramadhan berikutnya.[Solok 21012000]

Renungan Hari Ke 1 Ramadhan

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN
oleh; Mukhlis Denros



Tadi malam merupakan kali pertama kita melaksanakan shalat tarawih di masjid, mushalla atau surau tempat kita tinggal, begitu indahnya suasana shalat tarawih malam pertama ini, semua keluarga, handai taulan, tetangga dan masyarakat luas berbaur bersama mengikuti shalat tarawih, tadi malam juga merupakan sahur pertama yang kita lakukan setelah sekian bulan tidak melaksanakannya, rasa kantuk bergelayut tak mampu mengalahkan tekad seorang mukmin untuk makan sahur bersama keluarga, sedikit waktu digunakan untuk tadarus Al Qur'an menjelang subuh datang shalat tahajudpun dilakukan. begitu indahnya suasana Ramadhan yang dirasakan oleh seorang mukmin dari tahun ke tahun, tak beda dengan saudara kita yang jauh di sana seperti di Palestina, Moro ataupun belahan dunia Islam lainnya, mungkin mereka melaksanakan tarawih dan sahurnya diantara dentuman peluru dan desingan misiu tapi semangat menyambut Ramadhan tidaklah berkurang.

Terasa belum lama kita berpisah dengan bulan Ramadhan yang lalu, kini telah diambang pintu pula bulan suci Ramadhan, bulan yang dirindukan oleh ummat islam yang beriman sebagai bulan yang penuh berkah, bulan untuk melaksanakan ibadah.

Dimana saja masjid akan penuh sesak oleh generasi tua muda, besar kecil, baik pria maupun wanita. Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan menurut yang pernah dilakukan Rasulullah Saw, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan yaitu;
1. Pada akhir bulan Sya’ban adakanlah ceramah-ceramah, pengajian-pengajian atau penerangan agama dalam rangka menyambut bulan Ramadhan dengan menjelaskan keistimewaan bulan Ramadhan serta amalan saja yang layak dilakukan bagi orang yang sedang menjalankan ibadah puasa.

2. Menyambut bulan Ramadhan dengan penuh riang gembira, seolah-olah menunggu seorang tamu yang dirindukan dengan mengucapkan ”Ahlan wasahlan syahrur Ramadhan” atau ”Marhaban ya Ramadhan” [selamat datang bulan Ramadhan].


3. Niatkan di dalam hati untuk berpuasa sebulan penuh dengan didasari keimanan dan ikhlas. Karena orang-orang berimanlah yang diwajibkan untuk berpuasa,”Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” [Al Baqarah 2;183].

Ada beberapa hal dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang telah menjadi tradisi bagi bangsa Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan ajaran islam atau tidak ada tuntunannya, yaitu;

1. Ziarah kubur disertai dengan membakar kemenyan di kuburan, mengirim kembang kepada arwah dan berbagai minuman serta makanan yang dikirim untuk arwah yang ada di alam ghaib. Hukumnya ziarah kubur itu adalah sunnah, tetapi apabila dicampuri dengan urusan yang tidak ada tuntunannya, maka perbuatan itu mengandung syirik yang membawa kepada kesesatan.

2. Mandi keramas menyambut Ramadhan bukan pula suatu keharusan, karena memang tidak ada tuntunan yang pasti dari Nabi Muhammad Saw.

Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut bulan Ramadhan, yang kiranya tidak sesuai dengan ajaran yang telah dituntunkan Rasulullah Saw agar ditinggalkan, sehingga kita memperoleh derajat taqwa yang dilukiskan pada surat Al Baqarah, karena memang tujuan puasa ialah membentuk orang-orang yang bertaqwa.

Imam Al Gazali membagi derajat puasa menjadi tiga tingkatan yaitu;
1. Puasa Umum, yaitu puasa yang dilakukan oleh orang-orang sebagian besar, yang hanya sekedar menahan lapar, haus dan menahan keinginan biologis dengan isteri/suami sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

2. Puasa Khusus, yaitu puasa disamping puasa di atas juga menahan anggota badan dari perbuatan yang tercela seperti tangan jangan mengambil barang orang lain dan mata jangan memandang hal-hal yang mendatangkan dosa.

3. Puasa Istimewa, yaitu puasa disamping mencakup dua hal diatas juga menahan hati dari niat yang buruk dan sikap yang tercela seperti dengki, hasad, sombong, takabur dan lain-lain.

Agar Ramadhan tahun ini tidak sia-sia dan berlalu tanpa bekas, maka alangkah baiknya kita menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai-nilai ibadah puasa, Rasulullah bersabda,”Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak memberi faedah puasanya itu, kecuali hanya lapar dan dahaga saja” [Mukhlis Denros, Majalah Serial Khutbah Jum’at Jakarta No. 70/April 1987].