Selasa, 17 Juli 2012

INFORMASI MASJID IKHWAN: ALBUM 1 KENANGAN MASJID AL-IKHWAN

INFORMASI MASJID IKHWAN: ALBUM 1 KENANGAN MASJID AL-IKHWAN

Buku Khutbah Penyejuk Hati



Menjadi seorang mubaligh yang siap tampil di mimbar menyampaikan khutbah jum’at atau  ceramah  tidak cukup hanya mempersiapkan fisik dan mental saja tapi persiapan materi yang akan disampaikan tidak kalah pentingnya karena tausyiah yang tidak terlalu panjang tapi sarat dengan nilai-nilai dan pesan-pesan taqwa sangat diperlukan. Tidak banyak orang yang bisa dan mau tampil menyampaikannya, padahal shalat jum'at tidak akan terlaksana tanpa khutbah yang disampaikan, kelangkaan mubaligh terasakan sekali ketika kita berada di ujung desa yang sarat dengan beban berat dan sulit kehidupan masyarakatnya. Bahkan di kotapun dikala sang mubaligh yang diundang tidak hadir memenuhi tugasnya sehingga siapapun dari jamaah yang hadir harus tampil salah seorang untuk menyelamatkan mimbar.

            Sudah dipersiapkanpun jauh-jauh hari  kadangkala tampilnya seorang mubaligh diatas mimbar hanya sebatas penunaian tugas sesuai syariat saja tapi jama’ah yang cuma sekali sepekan ingin disirami oleh pesan-pesan ruhaniyah terkesan tidak mendapatkan apa-apa dari pelaksanaan shalat jum’at waktu itu karena bahan materi yang disampaikan khatib  tidak mengena, tidak menyentuh, tidak memberikan nilai lebih bagi jamaahnya,  apa lagi tidak sama sekali dipersiapkan sehingga ada ungkapan yang mengatakan,”Bila naik mimbar tanpa persiapan maka akan turun  mimbar tanpa penghormatan”.

            Dengan sedikit waktu serta minimnya ilmu yang penulis miliki disela-sela kesibukan da’wah dan ma’isyah mencoba mengumpulkan kembali bahan-bahan khutbah jum’at dari berbagai sumber, bahan khutbah jum’at tersebut sebagian besar sudah dipublikasikan pada media cetak terbitan Jakarta  dan juga media cetak di Sumatera Barat  serta telah pula penulis sampaikan di mimbar dalam pelaksanaan khutbah jum’at di berbagai masjid di ujung desa hingga masjid kota khususnya di Sumatera Barat bahkan hingga di masjid Metro Lampung ketika penulis menyelesaikan kuliah di sana.

            Pemunculan karya kecil dan sederhana ini sangat jauh dari kepentingan menonjolkan diri apalagi ambisi tertentu, ini hanya sebatas dokumentasi pribadi yang ”jika dibuang sayang”, siapa tahu ada manfaatnya untuk  kepentingan da’wah bagi yang membacanya sampai kapanpun, banyak sebenarnya tutur petuah dan tausiyah yang telah dikeluarkan dari mulut ikhlas para da'i dan mubaligh tapi mereka tidak sempat mencatat apalagi mengumpulkannya sehingga hanya diingat melalui ketajaman daya ingat jamaahnya sehingga untuk generasi berikutnya sulit mencari sumbernya.

            Terima kasih penulis ucapkan kepada penerbit yang telah berkenan menerbitkan  buku kumpulan khutbah jum’at ini dengan  judul KHUTBAH JUM'AT PENYEJUK HATI dalam rangka partisipasi aktif  penyebaran bahan-bahan khutbah jum’at terutama bagi khatib pemula atau khatib yang ketika itu secara mendadak didaulat untuk menyampaikan khutbah jum’at karena memang memiliki kapasitas untuk itu. Semoga dengan penerbitan buku kumpulan khutbah jum'at ini terjawab keinginan kawan-kawan yang mengharapkan tulisan penulis yang terserak diberbagai media dapat dikumpulkan sehingga lebih bermanfaat.

 Khutbah Jum'at Penyejuk Hati
Penyusun : Drs. Sutan Mukhlis Denros
Penyunting: Maftuhah Hamid
Perancang Sampul : Irwan Firdaus Mulia
Perancang Isi : Maftuhah Hamid

Penerbit Pustaka Albana
Gedung Galangpress Center
Jalan Mawar Tengah No. 72 Baciro Yogyakarta 55225
Telp. [0274] 554985, 554986, Faks [0274] 556086
email; pustaka.albana@galangpress.com
www.galangpress.com

istimewanya buku ini, isinya selain kumpulan khutbah jum'at dan ada tausiyah dan bonus CD audio yang dapat didengarkan pada kesempatan kapanpun, untuk lebih jelasnya silahlah cari pada toko buku di seluruh Indonesia atau langsung ke alamat penerbit [Cubadak Solok, 17 Juli 2012.M].

Minggu, 17 Juni 2012

Renungan IDUL FITRI 1433.H/2012.M

HASIL TEMPAAN RAMADHAN

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros


Hari ini kita berada di hari lebaran, tanggal 1 Syawal 1433.H/ 2012.M, ummat Islam bergembira mendatangi Lapangan atau masjid untuk melaksanakan shalat Id yang merupakan sunnah Rasulullah Saw, pakaian seperti baju, sepatu, kopiah, sarung, sepatu hinga mukena, dapat dipastikan semuanya baru yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum datangnya hari raya, perlengkapan rumahpun hingga kendaraan bagi mereka yang mampu diusahakan semuanya serba baru, paling tidak diperbaharui, semuanya lantaran datangnya lebaran.

Arus mudik masih sibuk diperjalanan, ada sebagian mereka sudah sampai di kampung halaman, berlebaran dengan keluarga, kegembiraan lebaran di kampung punya kesan tersendiri, sebagian lain yang mudik masih terjebak macet diperjalanan atau kendala lain, dapat diperkirakan malam nanti mereka sudah sampai, walaupun tidak sempat shalat Id bersama tapi malam hari atau besoknya suasana lebaran masih dinantikan.

Apa sebenarnya yang perlu kita lakukan ketika Ramadhan berakhir, apakah kita akan merdeka untuk berbuat apa saja atau kita punya kerja-kerja lain yang harus dan masih berkelanjutan.

Rasanya berat meninggalkan bulan Ramadhan, ingin rasanya kita terus berada di bulan nan indah dan penuh berkah ini, namun waktu tetaplah waktu yang pasti berlalu, kini saatnya kita dan seluruh umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangannya. Gema takbir, tahlil dan tahmid pun berkumandang dimana-mana, umat Islam di seluruh jagad raya ini, bersatu padu melantunkan irama membesarkan Allah, memuji dan mensucikan-Nya, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah dianugerahkan. Mengungkapkan syukur atas hidayah dan inayah Allah yang begitu besar karena telah berhasil mengikuti rentetan ibadah pada bulan Ramadhan sebagai jaminan untuk mendapatkan ganjaran dan ampunan Allah SWT dan kembali kepada fitrah.


Drs Sutan Mukhlis Denros dan keluarga, mengucapkan TAQABBALALLAHU MINNA WAMINKUM, MINAL 'AIDIN WAL FAIZHIN 'SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI' 1 Syawal 1433.H/ 2012.M, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.


Di akhir Ramadhan, masih ada beberapa ibadah yang disyariatkan sebagai penutup amalan seorang hamba yang mulia ini. Di antara syari’at itu adalah:
Pertama: Istighfar. hendaklah kita memperbanyak istighfar kepada Allah Ta’ala. Istighfar menjadi penutup bagi segala amal kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam jika selesai melaksanakan shalat fardhu, beliau beristighfar dalam keadaan menghadap kiblat. Beliau beristighfar tiga kali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga beristighfar setiap selesai melakukan shalat malam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengakhiri hayatnya dengan istighfar. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”[An Nashr 110;1-3].

Hikmah mengakhiri amal dan menutup usia dengan istighfar yaitu berperan untuk menutupi kekurangan serta kesalahan dalam amalan sepanjang usia. Karena manusia tidak akan lepas dari kekurangan dan kesalahan.


Hikmah lainnya, agar seorang muslim tidak tertipu atau silau dengan amal ibadah yang telah dilakukannya. Hendaklah seorang muslim senantiasa menganggap dirinya kurang maksimal dalam menunaikan hak-hak Allah Ta’ala. sekalipun telah banyak amalan yang dia perbuat. Oleh sebab itu, disyariatkan beristighfar, memohon ampunan Allah Ta’ala atas kekurangan ini.

Jika yang melakukan amal shalih saja sisyariatkan untuk beristighfar, lalu bagaimana dengan orang yang senantiasa melakukan perbuatan dosa dan maksiat, namun dia enggan beristighfar?!

Diantara amal shalih kedua yang bisa dijadikan sebagai penutup bulan yang penuh barakah ini yaitu zakat fithri. Zakat fitrah merupakan syiar Islam dan kewajiban yang agung. Allah Ta’ala mewajibkannya atas seluruh kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar, merdeka maupun budak. Zakat ini sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin, agar mereka ikut serta merasakan kebahagiaan di hari Raya Idul Fitri. Zakat ini diambilkan dari makanan pokok daerah setempat. Allah Ta’ala berfirman:

“…Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu,…”[Al Maidah 5;89].

Belum dikatakan menunaikan zakat, jika dia menggunakan makanan yang jelek. Allah Ta’ala berfirman:
”Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Qs al-Baqarah/ 2:267)


Amalan lain yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala di penghujung bulan ini bertakbir, mengagungkan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang dibeRikan kepadamu, supaya kamu beRsyukuR.” (Qs al-Baqarah/ 2:185)

Takbir disyariatkan apabila telah teRlihat hilal bulan syawal sampai pelaksanaan shalat ied. TakbiR ini dilakukan di masjid-masjid, Rumah-Rumah dan jalan-jalan sebagaimana yang dilakukan Oleh paRa sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, guna menyebaRkan syiaR Islam dan mengagungkan Allah Ta’ala atas segala kaRunia dan nikmat-Nya. [AkhiRi Ramadhan Dengan Amal Shalih, Majalah As Sunnah, edisi khusus [06-07] Th XII Ramadhan-Syawal 1429.H, September-Oktober 2008.M].

Buah Ramadhan bukan hanya mampu meRedam muRka Allah subhanahu wata’ala tapi juga dapat mendatangkan kebeRkahan untuk negRi kita ini jika buah teRsebut betul-betul telah dimililiki dan diRaih Oleh semua penduduk negRi ini, sebagaimana janji Allah subhanahu wata’ala,
”Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [Al A’raf 7;96]. [Muhammad Ruliyandi Abu Nabiel Khutbah 'Idul FitRi Buah Ramadhan PeRedam MuRka Ilahi :: Compiled by oRiDo™ ::].


Kegiatan rutin yang dilakukan ummat islam selama bulan Ramadhan diantaranya puasa, shalat malam [tarawih], shalat berjamaah, membaca Al Qur’an, sedekah, pengajian-pengajian dan lain-lainnya. Kegiatan tersebut bila terbukti pula diluar bulan Ramadhan berarti pengkaderan selama satu bulan berhasil.

Puasa yang dilakukan selama bulan Ramadhan dapat diselesaikan dengan baik, menahan lapar dan dahaga, serta menjauhkan segala yang membatalkan puasa, hal ini biasa dilakukan karena bulan puasa, bila tidak nampak dilakukan diluar bulan Ramadhan dengan puas nazar, puasa sunnat dan puasa qadhanya tidak terujud kader yang baik.

Shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan dengan tarawih biasa dan wajar, tapi apakah terlihat pula shalat malam tersebut dengan tahajudnya di luar bulan Ramadhan, bila puasanya baik tentu saja kegiatan ini akan berkelanjutan bukan di bulan Ramadhan saja.

Orang mengejar shalat berjamaah di bulan Ramadhan karena pahalanya besar bahkan shalat sunat saja sama nilainya dengan shalat wajib di luar bulan Ramadhan. Tapi kerap kali bila Ramadhan berlalu tidak lagi shalat berjamaah diutamakan untuk dilakukan baik di masjid ataupun di rumah, begitu Ramadhan berlalu maka shalatpun menjadi nomor terakhir.

Tabungan Ramadhan akan penuh oleh infaq, sedekah dan santunan, orang yang memberi berbuka bagai yang puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa, setelah puasa usai pula sedekah, infaq dan santunan jarang sekali terdengar, pembangunan masjid terhenti karena dana yang dihasilkan Ramadhan telah habis, terpaksa pembangunan dilanjutkan menanti Ramadhan berikutnya.

Di bulan Ramadhan syiar islam nampak memancar dengan kegiatan tilawatil qur’an yang digemakan di masjid-masjid melalui qori dan qariah, baik selesai tarawih ataupun menjelang subuh, dimana-mana diadakan pengajian dan pengkajian islam dan Al Qur’an, setelah berlalu satu bulan mulia ini Al Qur’an disimpan di lemari yang paling tinggi, sekali-kali berkumandang ayat-ayat ini melalui kaset, tidak terdengar lagi suara merdu anak-anak mengaji dan mengeja Al Qur’an.


Pengajian-pengajian semarak, dari kuliah subuh, kuliah taraweh sampai pengajian menjelang berbuka, begitu pula radio selalu mengudarakan ceramah-ceramah islam, tapi sayang hanya satu bulan, begitu Syawal menjelang Ramadhanpun tenggelam diiringi tenggelamnya segala aktivitas ummat.

Orangtuapun sibuk membawa anak-anaknya untuk shalat di masjid, menyediakan makan sahur dan berbuka keluarga karena dihiasi oleh Ramadhan, perhatian orangtua ekstra ketat dibulan ini, terpanggil ayat Allah dalam surat At Tahrim 66;6 yang artinya,”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargam dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”.

Sehubungan dengan ayat diatas Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah kami telah dapat memelihara diri kami, tetapi bagaimana caranya memelihara keluarga kami?” Jawab Rasul,”Kamu laranglah mereka dari segala perbuatan yang dilarang Allah, dan perintahkan mereka mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan Allah” [HR> Al Quraisyi].


Sangat rugi orang yang tidak menjaga dirinya dari neraka, tidak terpuji orang yang hanya menjaga dirinya sementara keluarganya diabaikan, sangat bodoh orang yang menyelamatkan keluarganya sementara dirinya tenggelam dalam neraka.

Bila segala kegiatan yang berlansung di bulan Ramadhan tidak dilanjutkan di luar bulan Ramadhan berarti tempaan, pengkaderan dan latihan di bulan ini sedikit hasilnya dan manfaatnya atau tidak berhasil dan tidak bermanfaat sama sekali. Seandainya dapat pula terlaksana dengan baik di bulan lain berarti tercapailah tujuan dari puasa yaitu meraih derajat taqwa. Taqwa adalah tingkatan tertinggi dalam ajaran islam setelah seseorang disebut dengan muslim, mukmin, muhsin dan mukhlis.

Sifat yang harus tertanam setelah Ramadhan yaitu sabar, disiplin, kasih sayang,semakin dekat kepada Allah dan punya masa depan sebagai neraca pribadi, keluarga dan masyarakat,”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan hari esok” [59;18]



Renungan Hari Ke 29 Ramadhan

HALAL BIL HALAL WADAH SILATURAHIM

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Dengan selesainya puasa pada hari ini yaitu hari ke 29 maka Insya Allah besok kita memasuki hari raya Idul Fithri, hal itu sesuai dengan ketentuan dari Menteri Agama RI, malam nanti akan berkumandang takbiran di seluruh penjuru masjid, surau dan rumah-rumah ummat Islam sebagai sunnah awal masuknya hari raya, kata rasulullah, ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan pertama ketika berbuka, luar biasa gembiranya kita saat adzan maghrib berkumandang, dengan seteguk air dapat melepaskan segala letih, haus dan lapar yang dilanjutkan dengan menikmati hidangan selanjutnya, seolah-olah dunia mulai terang, setelah berbuka semuanya kelihatan indah dan menarik, lega dan rasanya. kebahagiaan kedua kata Rasulullah adalah ketika datangnya hari raya, semuanya bergembira dan saling menggembirakan dengan setelah satu bulan berpuasa Ramadhan.

Sumber hari raya dalam islam ada dua yaitu yang berasal dari syariat adalah Idul Fithri dan Idul Adha, sedangkan yang berasal dari sejarah dapat kita lihat seperti tahun baru Muharam, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan Nuzulul Qur’an. Pada bulan ini kita masih berada dalam suasana Idul Fithri setelah satu bulan kita berjuang mengenyampingkan hawa nafsu dengan harapan ibadah puasa kita membuahkan taqwa.

Idul Fithri menurut bahasa artinya kembali, fithri yaitu kejadian atau kesuian, sedangkan menurut istilah artinya kembali kepada sifat-sifat asli manusia pada waktu kejadian, sebagaimana sabda Nabi yang artinya, tiap ada yang dilahirkan dalam keadaan fithrah/suci.

Adapun anjuran yang layak dilakukan dalam Idul Fithri yaitu;
1. Saling kunjung mengunjungi.
2. Bersalam-salaman.
3. Bermaaf-maafan.
4. Bersilaturahim
5. Halal bil Halal.

Peristiwa silaurahim yang dilakukan pada suatu tempat tertentu dengan rangkaian acara tertentu seiring pula dengan halal bil halal, hal ini dilakukan karena antara satu dengan lainnya tidak dapat saling mengunjungi bahkan dianggap formal bila diadakan acara halal bil halal.

Halal bil halal adalah istilah khas Indonesia dalam rangka saling menghalalkan dan memaafkan atas kekeliruan dan kesalahan yang pernah terjadi, dalam surat Al Maidah 5;13 Allah berfirman,”Maaf-maafkanlah mereka dan leburkanlah segala kesalahannya sesungguhnya Allah amat sayang terhadap orang-orang yang berbuat baik”.


Drs.St.Mukhlis Denros dan keluarga mengucapkan Selamat hari raya Idul Fithri 1 Syawal 1433.H/ 2012.M 'TAQABBALALLAHU MINNA WAMINKUM, MINAL 'AIDIIN WAL FAIZHIN' Mohon maaf lahir dan bathin.

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyatakan,”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menghubungkan kasih sayang”. Ujud silaurahim ini dalam islam tampak pada praktek ibadah yang dilakukan seperti;
1. Mengucapkan salam di akhir shalat.
2. Shalat yang dilakukan dengan berjamaah.
3. Melaksanakan ibadah jum’at satu kali dalam seminggu.
4. Shalat tarawih dan puasa di bulan Ramadhan.
5. Membayarkan zakat, infaq dan sedekah.
6. Mengucapkan salam ketika bertemu.
7. Konfrensi besar umat islam dalam melaksanakan ibadah haji di Mekkah.

Manusia sebagai hamba dan makhluk sosial mempunyai dua hubungan sekaligus, yaitu hubungan mendatar dengan istilah horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia dengan wujud silaturahim, hubungan vertikal yaitu keatas, hubungan manusia dengan Allah melalui ibadah, baik ibadah khusus atau ibadah secara umum.

Adapun makna dari ucapan manusia melalui kalika takbir, tahlil dan tahmid dalam rangka memupuk hubungan secara vertikal menurut Dr.Muhammad Al Bahy adalah;
1. Manifestasi pengulangan ikrar yang pernah diucapkan.
2. Pembulatan tekad, dengan konsistensi dan koksekwensi tidak ada yang layak dipuja selain dari Allah.
3. Pengakuan atas kelemahan diri, hanya kepada Allah tempat meminta perolongan.
4. Menguatkan ke-Esaan Allah sehingga dalam beramal dilakukan dengan ikhlas karenanya.

Ada beberapa keterangan Allah dan Rasul-Nya yang berhubungan dengan silaturahim atau halal bil halal yaitu;
1. Surat Al A’raf ;199
”Sukalah memaafkan, anjurkanlah berbuat baik dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil”.

2. Hadits Riwayat Abu Daud
”Dua orang muslim yang bertemu lalu keduanya saling berjabat tangan, niscaya dosa keduanya diampni Allah sebelum mereka berpisah”.
[Harian Mimbar Minang Padang, 20122002].

Renungan Hari Ke 28 Ramadhan

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros

KISAH TANGIS DI HARI RAYA



Hari ini kita melaksanakan puasa hari ke 28, sebuah prestasi yang luar biasa, mampu menahan lapar,haus, letih dan capek dalam semua aktivitas, yang lebih penting adalah menjaga agar ibadah puasa itu tidak sia-sia dengan meninggalkan segala yang merusaknya. Idul Fithri tinggal hitungan jam, sebagian besar ummat Islam sudah melaksanakan mudik dari rantau menuju kampung halaman, ingin berlebaran dengan orangtua dan keluarga, mungkin mudik itu terhalang oleh berbagai resiko tapi harus dilakukan, kesannya tidak enak dan kurang afdhal bila mencari nafkah sekian bulan antara suka dan duka lalu lebaran tidak di kampung, biarlah pencaharian selama itu habis hanya untuk mudik lebaran asal Idul Fithri ada di kampung halaman.

Lebaran, mmhh tentu disediakan hal yang serba baru, sejak dari makanan, minuman, pakaian baru, rumah baru, walaupun hanya catnya saja yang dipercaharui, kendareaan barupun jadi impian di hari raya, ah mungkin juga isteri baru, itulah kesan bagi ummat Islam, tidak seru rasanya bila hari raya tidak ada yang baru, apakah dilarang kalau kita menyediakan yang serba baru, tidak ada larangan, hal itu termasuk dibolehkan dan sunnah tapi tidak memaksakan diri dengan berbagai cara, ulama menyatakan bahwa hakekat lebaran itu adalah iman yang semakin baru dan semangat ibadah yang diperbaharui agar setelah lebaran ibadah tidak kendur sebagai mana tahun-tahun yang lalu.


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Dalam menghadapi Hari Raya seperti 1 Syawal tahun ini, menurut informasi masih belum semua orang mampu mencukupi kebutuhannya, walaupun hanya untuk sehari raya itu saja.

Dalam pada itu masih terbilang sedikit jumlah orang kaya yang mau mengeluarkan derma atau mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan terhadap masyarakat yang melarat, miskin lagi papa. Sehingga detik-detik hari raya itu berlalu tak ubahnya seperti hari-hari biasa saja, penuh dengan aktivitas kehidupan yang masih terbilang belum mencukupi.

Menyambut hadirnya Idul Fithri, kita sengaja mengutipkan sebuah kisah yang menggambarkan detik-detik kehidupan yang dilalui oleh orang-orang tak mampu dalam menghadapi lebaran.

Kisah ini menceritakan seorang ibu miskin, pada malam hari raya dengan penuh haru berdiri masygul dalam sebuah toko yang menjual mainan anak-anak. Dari rumah tadinhya, ia sudah berjanji akan membelikan anaknya mainan. Karena itulah, begitu melihat sebuah boneka yang lucu, ia lansung menanyakan harga dan menawar boneka yang dipilihnya.

Tawar menawar berlansung antara perempuan itu dengan pedagang pemilik toko mainan. Tapi tak ada kecocokan, karena perempuan itu tidak cukup punya uang seharga boneka yang diinginkannya.

Namun karena keinginan memiliki dan membawa boneka itu pulang untuk anaknya tidak dapat dibendun g, akhirnya perempuan itu jadi nekad, mencuri boneka saat pemiliknya lengah. Tetapi sebaliknya, pemilik toko penjual boneka mengetahui perbuatan perempuan itu. Karenanya dengan ditemani dua orang polisi, ia segera mengikuti perjalanan perempuan itu dari belakang, sementara perempuan yang mencuri boneka tetap melanjutkan perjalanan dengan gejolak di hati.

Dalam perjalanan menuju ke rumahnya, hatinya senantiasa berdetak, karena takut, bagaimana jadinya bila perbuatannya diketahui pemilik toko. Sementara dari salah sudut relung hatinya yang lain, perempuan itu mendesis dan membayangkan betapa anaknya di hari raya itu akan dapat ikut bermain gembira dengan boneka baru dan indah.

Ketika tak lama kemudian ia sedang bercanda ria dengan anaknya bersama boneka baru di rumahnya, dua orang polisi yang mengikutinya lansung membelenggu tangan perempuan itu. Sementara itu pemilik toko penjual mainan, segera merebut boneka yang sedang digendong anaknya. Karena itu, anaknya menjerit sambil berhiba-hiba.

”Kasihanilah ibu saya pak”. Tangisnya semakin menjadi. Melihat kejadian itu, pemilik toko diam membisu, sementara di udara ketika itu lafaz takbir mulai berkumandang sahut –sahutan, menandakan masuknya hari raya. Akhirnya pemilik toko jadi pucat pasi. Sekujur tubuhnya mendadak gemetaran. Sungguh berat rasanya ia membiarkan keluarga miskin itu bersedih hati seperti berkabung pada hari raya, sementara orang lain tenggelam dalam kegembiraan.


Karena itu pemilik toko segera berkata kepada kedua polisi itu,”Maaf pak, saya keliru menuduh ibu ini mencuri barang dagangan saya. Ternyata saya tidak menjual boneka sebagus itu.” Mendengar penjelasan itu, polisi yang hadir segera melepaskan belenggu, lalu meninggalkan rumah perempuan itu. Dan sepeninggal mereka pemilik toko mendekati anaknya sambil mengusap kepalanya dan minta maaf atas kekeliruannya menuduh dan bersikap kasar kepada keluarga itu.

Perempuan itupun ikut minta maaf sambil tertunduk, sementara air matanya masih menetes karena sedih. Di mukanyapun menetes keringat karena merasa malu mengingat perbuatannya. Dan sebelum berangkat, pemilik toko sempat meninggalkan bingkisan hari raya untuk keluarga miskin itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd [Harian Singgalang Padang, 11041993].

Renungan Hari Ke 27 Ramadhan

DIANTARA GEMA TAKBIR

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Ramadhan telah ditunaikan, dengan segala keimanan rela menahan lapar dan haus, serta menghindarkan aktivitas seksual suami isteri yang sah di siang hari. Bagi orang yang berpuasa dia akan merasakan dan menemukan dua kegembiraan, yaitu gembira ketika berbuka puasa karena dahaga lepas setelah beberapa teguk air membasahi kerongkongan, lapar terobati setelah disuapi makanan, letih habis, capek hilang, tidak dapat dibayangkan dengan lukisan kata-kata betapa sejuknya hati ini ketika berbuka puasa.

Kegembiraan kedua, yaitu ketika bertemu dengan Allah Swt di Padang Mashar dengan segala pertanggungjawaban di hadapan Mahkamah Yang Maha Adil sebagaiana Allah memfirmankan,”Semua amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, sedangkan puasa yang dilakukannya adalah untukKu”, artinya pahalanya hanya Allah yang lebih tahu dan lansung diberikan kelak.

Akhir Ramadhan takbir bergema sejak dari surau yang berada di ujung kampung sampai masjid pencakar langit di tengah kota, berkumandang menyemarakkan Idul Fithri dengan mengagungkan Asma Allah dengan takbir. Zakat fithrahpun dikeluarkan sebagai rangkaian amaliah ibadah puasa Ramadhan dengan penyaluran kepada fakir miskin, agar dapat merasakan kegembiraan besok bersama dengan orang-orang islam lainnya.

Sebenarnya bukan sampai disini saja tugas para shaimin dan hartawan dalam menyantuni fakir miskin, berapalah harga beras sebanyak 2,5 kilogram bila dibandingkan dengan kekayaan yang diperoleh, dari keuntungan yang telah kita raih, tidaklah cukup dengan 2,5 kg beras lalu selesai tugas, bagaimana dengan anak yatim yang dalam kepiluan merintih disamping mengenang kedua orangtuanya, juga mereka berduka dengan pakaian compang camping setelah dimakan suai satu tahun, bahkan lebih, sedang gantinya belum terbayang. Bagaimana dengan biaya sekolah mereka yang terbengkalai sekian bulan, makan sehari-harinya seadanya, dirasakan kegembiraan akan ditemui karena lebaran datang dengan santunan dan uluran tangan dari saudaranya yang berada dalam harta tapi mereka hanya menerima 2,5 kg beras, itupun untung-untungan setelah antri, sedangkan untuk lauk, pakaian dan keadaan kian tahun tidak berubah.


Disela-sela gema takbir masih terdapat beberapa orang yang harus berduka karena kemalangan yang menimpa, kesedihan ini akan tergurat lebar karena lebaran datang, sedangkan anggota keluarga tidak cukup mengelilingi mereka. Bagaimana jerit pilu seorang isteri di tengah keramaian takbir sementara suami berada jauh, entah dialam baqa atau jauh merantau mengadu nasib mencari rezeki. Bagaimana keadaan janda yang ditinggal suami tercinta, atau hati seorang ibu ketika anaknya tidak ada di sekitarnya, entah karena ditinggalkan selamanya atau menuntut ilmu di rantau tidak dapat hadir pada saat ini.

Tidakkah kita tahu bagaimana keras dan sempitnya kehidupan dalam penjara dibalik terali besi, pada saat itu ingin tenaga mendobrak jeruji serta menjebol tembok penjara untuk sedetik saja melihat sanak keluarga lalu bersama mereka merayakan Idul Fithri, tapi apa daya, kungkungan begitu keras, keadaan memaksa untuk menikmati lebaran dengan getir dalam kesendirian.

Gema takbir masih memecah angkasa, kesedihan ditinggal suami dan anak tercinta, kepiluan dalam penjara, kedukaan dalam hidup dapat hilang dan luntur ditelan takbir [Allahu Akbar], tahmid [Alhamdulillah], tasbih [Subhanallah] dan tahlil [Lailaha illallah]. Kebesaran Allah dapat melepaskan diri dari kepiluan, kegetiran, kesedihan untuk ikut bersama-sama merayakan Idul Fithri dengan situasi dan kondisi apa adanya.

Bagi orang yang mengamalkan hasil Ramadhan, tentunya jiwa sosialnya semakin tinggi setelah ditempa selama satu bulan untuk merasakan bagaimana rasanya lapar dan haus, bagaimana rasanya tidak makan sekian jam, apalagi mereka yang tidak menyentuh nasi sekian hari. Sehingga layak dan pantas kalau mereka mengangkat martabat fakir miskin, yatim piatu minimal di hari raya itu sementara takbir berkumandang, bjukan sekedar dengan zakat fithrah 2,5 kg, merdekakan mereka pada hari itu dari rasa sedih dan duka, karena papa dan kesengsaraan dengan mencukupi kebutuhannya sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw..

. Rasulullah pernah terlambat menunaikan shalat Idul Fithri karena berpapasan denan seorang bocah yang bermasalah, pakaiannya kumal, rambutnya kusut dan tidak terurus,”Kenapa kamu menangis sementara teman-temanmu sibuk dengan permainannya, pakaiannyapun bagus-bagus dan di tangannya da kue yang enak, dimana orangtuamu?”.

Anak itu terkejut dengan datangnya seorang lelaki di hadapannya, dia tidak tahu kalau sedang berhadapan dengan Rasulullah,”Bagaimana saya tidak sedih, ayah saya sudah meninggal, ia syahid dalam peperangan mengikuti perintah jihad dari Rasulullah, sedangkan ibu saya sudah menikah lagi, mereka tidak memperhatikan saya...”, Keluhan lirih itu disambut oleh ajakan Rasulullah,”maukah engkau berayahkan Muhammad, beribukan Aisyah, bersaudarakan Fatimah dan bertemankan Hasan?”.

Spontan anak itu menerima tawaran itu, Rasulullah mengantarkan anak itu pulang untuk dimandikan, diberi makan, diberi baju baru dan belanja layaknya seorang anak yang sedang merayakan Idul Fithri.

Diantara gema takbir, Rasulullah telah mengangkat derajat seorang anak sebagai manusia yang mulia dengan penghormatan yang layak tanpa melecehkan keadaannya.

Kemudian seandainya para hartawan dan dermawan islam yang ada di dunia ini mau dan mampu berbuat demikian, maka akan habislah kaum gelandangan, minimal mengurangi jumlah mereka, walaupun mereka dibebaskan pada hari lebaran saja, sudah suatu usaha yang patut dipuji, dalam surat Al Ma’un Allah berfirman,”Adakah engkau ketahui orang yang mendustakan agama ? maka demikian itu adalah orang yang mengusir anak yatim dan tiada menyuruh memberi makan orang miskin”.

Orang yang mengusir anak yatim, dan tiada suka menyantuni orang miskin, dengan memberi makanan atau keperluan mereka adalah masuk golongan orang yang mendustakan hari pembalasan atau agama Allah; meskipun mereka mengaku, ia orang muslim sejati, karena tiadalah faedahnya perkataan itu, jika tiada disertai amal kebaikan.

Diantara gema takbir, terdapat dua golongan manusia yang ikut merayakan Idul Fithri atau Idul Adha, yaitu golongan hartawan dengan segala fasilitas kemewahan, serta golongan miskin yang selalu dalam kekurangan. Mereka ingin diangkat martabatnya dengan uluran tangan dan santunan dari hartawan dan dermawan, karena mereka tahu dibalik harta si kaya ada haknya yang harus dikeluarkan untuk mereka.

Biarkan takbir berlalu dengan gema dan kumandang yang Agung selama rintihan mereka dapat terobati, pengaduan mereka terjawab,kemiskinan mereka walaupun sejenak terlupakan. Derajat dan martabat merekapun terentaskan, wallahu a’lam [Majalah Serial Khutbah Jum’at Jakarta no. 153/ Maret 1994].

Renungan Hari Ke 26 Ramadhan

IDUL FITHRI DAN MAAF

Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



Tanpa terasa bulan Ramadhan akan berakhir, rasanya belum lama kita mengawalinya, kini kita akan mengakhirinya diiringi dengan gema takbir yang berkumandang sejak berbuka terakhir hingga khatib menyampaikan khutbahnya pada shalat Idul Fithri. Suasana ini sangat dinantikan seluruh keluarga muslim dimanapun mereka berada dengan persiapan yang kadangkala diluar kemampuannya. Semuanya ditampakkan serba baru, sejak dari hidangan, pakaian, rumah hingga bila mungkin isteri dan suami yang baru.

Ada dua kebahagiaan yang akan dirasakan orang-orang yang berpuasa dan saat bertemu Allah di akherat nanti. Tapi yang merayakan Idul Fithri tidaklah semua orang yang berpuasa. Bahkan mereka yang paling antusias merayakannya. Dengan kegiatan ini dia merasakan sudah cukup menjadi seorang muslim yang berpuasa walaupun tidak tuntas menunaikannya. Dalam hatinya dia berkata,”Saya gagal di hadapan mereka yang meraih kemenangannya”.

Suatu kegembiraan bagi orang rantau bila mereka bisa hadir di kampung halaman merayakan Idul Fithri. Karena disamping hari besar dan libur juga saat yang tepat menjalin kembali silaturahmi, memupuk ukhuwah islamiyyah diantara kalangan keluarga dan sejawat. Salah satu kewajiban mukmin menyambut Idul Fithri ialah menyambutnya dengan senang hati dan gembira. Tidak takut dan cemas apalagi sebatas faktor ekonomi. Bahkan ada di sebuah Provinsi, waktu memasuki Idul Fithri ini angka perceraian meningkat, banyak terjadi runtuh rumah tangga karena mengaitkan Idul Fithri dengan kemewahan sehingga tidak terjangkau oleh kantong keluarga. Walaupun ada kemampuan untuk itu, sebaiknya kita menahan diri untuk tetap dapat hidup sederhana.


Hal negatif yang terjadi pada hari raya ini adalah melibatkan kegiatan akhir Ramadhan dengan datang ke kuburan dengan maksud ziarah. Islam membenarkan ziarah itu dalam rangak zikrul maut [mengingat kematian] yang tidak ada kegiatan syirik di dalamnya seperti menaburkan bunga ke makam, membakar kemenyan dan mendoa kepada orang yang sudah meninggal, semua praktek itu berasal dari tradisi,”Hai anakku janganlah engkau menserikatkan Allah karena syirik itu adalah kezhaliman yang besar” [31;13].

Suasana inipun dimeriahkan dengan saling memaafkan antara satu dengan lainnya, baik kesalahan yang disengaja atau tidak, besar ataupun kecil,”Maafkanlah mereka dan leburkan segala kesalahan. Allah suka kepada orang yang berbuat baik”[5;13]. Inilah saat yang tepat untuk melebur dosa, bukan berarti kita menunggu Idul Fithri saja untuk saling memaafkan. Begitu salah terdapat dalam prilaku kita spontan perbaiki dengan saling memaafkan,”Terdapat tiga sifat akhlak disisi Allah; memberi maaf kepada orang yang berlaku zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang sengaja memutuskan pemberiannya kepadamu dan menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya”[HR.Khatib].

Walaupun demikian saling memaafkan tidak mesti dengan berjabat tangan apalagi antara lawan jenis yang bukan muhrimnya, Aisyah menceritakan,”Rasulullah tidak pernah bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya”.

Ketika kita memasuki Idul Fithri,sering terlontar dari bibir kita ucapan,”Minal aidiina wal faizhiin” yang artinya ”Kita baru saja pulang dari medan perang dalam keadaan menang”, ini adalah budaya Arab yang boleh saja kita ucapkan, tapi ada yang lebih baik dari itu, ucapan ini bersumber dari Rasulullah,”Taqabbalallahu minna waminkum” maksudnya semoga Allah akan membalasi ibadah saya dan anda. Sebagai muslim tentu kita lebih baik memakai ucapan dan tingkah laku yang berasal dari Rasulullah,”Sungguh dalam pribadi Rasul itu ada contoh teladan yang baik bagimu”[33;21].

Ada baiknya berakhirnya bulan ini lalu kita masuki Idul Fithri, kita dapat dikatakan orang yang suci dari dosa ibarat anak yang dilahirkan oleh ibunya. Tapi negatifnya adalah saat itu masjid dan surau sunyi tak ada jamaahnya, masjid mulai lapang dan lengang lagi, padahal tidak demikian seharusnya. Ramadhan ibarat mobil yang butuh waktu istirahat demi awetnya kendaraan tersebut. Demikian pula fisik atau organ tubuh kita butuh istirahat, minimal satu bulan dalam satu tahun sehingga setelah itu dia siap lagi bekerja lebih keras lagi. Itulah waktu yang tepat yaitu Idul Fithri.

Sudah sering sebenarnya kita merayakan Idul Fithri dari tahun ke tahun. Tapi kepribadian kita tidak mencerminkan seorang muslimpun. Kenapa satu bulan kita ditempa dengan kegiatan prima seperti shaum, shalat, tahajud dan lain-lain tapi tidak tampak bekasnya ? padahal Ramadhan adalah bulan tarbiyyah [pendidikan] yaitu bulan untuk membina kader-kader bangsa yang istiqamah. Hari raya ini cendrung dihiasi dengan kemewahan dan kemubaziran dengan menyediakan makanan, minuman dan apa saja untuk tamu yang datang serta pengeluaran lainnya yang tidak memperhatikan skala prioritas. Bukan berarti kita tidak boleh menyediakan serba baru, hakekat Idul Fithri tersebut adalah kembali kepada fithrah [kesucian] yang ditindaklanjuti sebelas bulan berikutnya. Gema takbir sudah berkumandang, akhir Ramadhan kita masuki untuk menyongsong Ramadhan tahun yang akan datang, wallahu a’lam [Harian Mimbar Minang Padang 14122001].