Senin, 04 Juni 2012

Renungan Hari Ke 2 Ramadhan

RAMADHAN DAN PENGARUH LINGKUNGAN
Oleh Drs. St. Mukhlis Denros



sehari sudah berlalu Ramadhan kita lakukan, memang terasa haus dan lapar, letih dan ngantuknya suasana bulan ini,tapi banyak faedah dan pahala yang diperoleh kelak, Ramadhan merupakan Syahrut Tarbiyah, yaitu bulan pendidikan. kewajiban kita untuk mengajak keluarga tenggelam dalam aktivitas Ramadhan, sejak dari shalat tarawih, makan sahur dan berbuka puasa, membaca Al Qur'an dan kegiatan lain yang intinya menjadikan keluarga kita adalah keluarga yang terbimbing dengan nilai-nilai Ramadhan, jadikanlah lingkungan Ramadhan adalah lingkungan yang indah bagi kelaurga kita sehingga mampu menjadikan mereka anak-anak yang shaleh dan shalehah sehingga target Ramadhan yaitu jadi orang yang bertaqwa dapat dicapai, renungilah bagaimana lingkungan sangat mempengaruhi kepribadian manusia.

Lingkungan keluarga adalah pembina utama dan pertama dalam pembinaan kepribadian anak, kemudian pada umur sekolah pertumbuhan anak dipengaruhi oleh guru, pada usia anak-anak suka hidup bermasyarakat, jika temannya baik maka ia cendrung akan baik. Untuk itu orangtua agar berhati-hati dalam melepas anaknya hidup bergaul pula demikian sebaliknya, sehingga pergaulan bagi sianak akan mempengaruhi pertumbuhannya dengan anak-anak lain, Rasulullah bersabda;

”Perumpamaan teman bergaul yang baik dan teman yang jahat ialah bagaikan pedagang minyak wangi dan tukang besi,bila berteman dengan pedagang minyak wangi akan memperoleh salah satu dari dua kemungkinan, membeli minyak wangi atau kena percikan harumnya minyak wangi tersebut, dan berteman dengan tukang besi akan memperoleh dua kemungkinan, badan akan terpercik api atau memperoleh bau yang tidak sedap”

Lingkungan yang rusak akan menciptakan manusia yang rusak pula sebab si anak dengan mudah meniru tingkah laku temannya, ahli hikmat berkata,”Bila kau berteman dengan pencuri, minimal cara mencongkel pintu dapat kau kuasai dan bila berteman dengan orang alim minimal membaca bismillah kau dapat”.


Dalam Shaheh Muslim dapat kita ikuti sebuah riwayat bagaimana rusaknya manusia bila dia hidup dalam lingkungan yang tidak baik;
Zaman dahulu ada seorang pembunuh yang telah membunuh korbannya sebanyak 99 orang, lalu dia bertanya kepada penduduk negeri, siapa orang yang paling alim di negeri ini, maka ditunjukkan seorang Rahib, didatanginya Rahib itu seraya mengatakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, kemudian dia bertanya, apakah pintu taubat masih terbuka untuknya ? jawab Rahib, tidak. Maka dibunuhnya Rahib itu dan genaplah korbannya 100 orang.

Kemudian dia bertanya pula kepada warga setempat tentang orang yang paling alim di kampung itu, maka ditunjukkan orang kepadanya seorang ulama. Dia menceritakan bahwa ia telah membunuh korbannya 100 orang, apakah pintu taubat masih terbuka baginya, jawab orang alim itu, ya bertaubatlah. Orang alim itu melanjutkan, kalau anda ingin bertaubat atas perbuatan jahat yang pernah dilakukan, maka sinsaflah dan ikutilah jalan Allah, pergilah anda kesuatu tempat yang disana penduduknya menyembah Allah, sembahlah Allah bersama-sama mereak dan janganlah kembali ke negeri anda, karena negeri anda telah rusak....

Walau seseorang yang jahat kemudian bertaubat maka untuk menjadi orang yang baik dia harus meninggalkan lingkungan yang rusak, mencari tempat baru atau istilah agama hijrah, sebab kalau tidak hijrah taubatnya akan luntur dan lentur kembali. Apalagi bagi anak-anak yang masih mentah lagi fithrah. Sangat diperlukan lingkungan yang harmonis, bi’ah shalihah [lingkungan yang bersih], tertib, aman tentram serta damai, baik di rumah,di sekolah maupun di masyarakat agar menciptakan suasana agamis.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,”Setiap bayi yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”

Artinya orangtua memegang peranan penting dalam mencetak anak agar jagi anak yang baik, kalau hal ini dilalaikan maka kehancuran manusia akan terjadi, dia akan terseret ke lembah kenistaan dan kemaksiatan karena terjerembab dalam pergaulan lingkungan yang tidak baik.

Jauh sebelumnya Allah telah memperingatkan kepada orangtua agar menyelamatkan pribadi dan keluarga dari hal-hal yang dapat membawa ke neraka, hal ini tercantum dalam surat At Tahrim 66;6
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Salah satu waktu yang tepat untuk mempengaruhi lingkungan dengan aktivitas islami ialah bulan Ramadhan karena fihrah manusia sepakat bila Ramadhan harus dijaga kesuciannya dari hal-hal yang tidak baik sehingga sangat kondusif untuk menciptakan lingkungan yang bersih dari maksiat yang dapat mempengaruhi anak, yang lebih penting lagi adalah menjadikan lingkungan keluarga yang cocok untuk menanamkan suasana islami apalagi pada bulan Ramadhan, itulah makanya bila masuk Ramadhan keluarga muslim Arab membuat pada spanduk di rumah mereka dengan kalimat ”Marhaban ya Ramadhan, syahrul mubarak”, dan aktif dengan kegiatan yang menunjang kepada kebaikan hingga datang Ramadhan berikutnya.[Solok 21012000]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar