Senin, 07 Mei 2012

Teori Etika


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Perkataan etika berasal dari bahasa Yunani ”Ethos” yang berarti ”Adat Kebiasaan”. Kata ini nampaknya identik dengan moral yang berasal dari bahasa latin ”Mores”, juga sama dengan tata susila, budi pekerti, kesopanan, adab, perangai dan tingkahlaku.

Secara istilah, etika adalah usaha manusia agar kehidupan mereka berada dalam aturan yang baik, beredar sesuai dengan naluri kemanusiaan. Usaha itu diwujudkan dengan membentuk suatu tata aturan kehidupan yang baik lalu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Persepsi berbagai agama tentang etika bermacam-macam. Budha Gautama yang melihat ketimpangan dalam etika Hindu [kasta] mencoba mengeluarkan etika baru yang meliputi delapan perkara; melakukan kebaikan, bersifat kasih sayang, suka menolong, mencintai orang lain, suka memaafkan orang, ringan tangan dalam kebaikan, mencabut diri sendiri dari sekalian kepentingan yang penting-penting dan berkorban untuk orang lain.

Demikian juga halnya dengan Lao Tse dan Kong Fu Tse. Dua tokoh Tiongkok ini juga berusaha memperbaiki tingkah dan etika manusia pada zamannya dengan berbagai ajaran kebaikan, demi keselamatan tatanan kehidupan manusia. Banyak lagi tokoh seperti Socrates, Antintenus, Plato, Aristoteles dan lainnya bermunculan mengemukakan konsep dan teorinya, bagaimana agar manusia bertingkahlaku baik, menjauhkan kerusakan dan kebinasaan pribadi maupun orang lain.

Aturan yang mereka buat hanya didasarkan kepada pendapat orang-orang sesuai dengan fikiran dan perasaannya. Tentu saja pendapat yang satu berbeda dengan yang lain. Bahkan, bisa saja pendapat kemaren dibantah dengan munculnya pendapat baru. ”Kebenaran” seorang tokoh akan ditolak dengan ditemukannhya kebenaran orang sesudahnya.

Sekitar abad ketiga sebelum Masehi, muncul aliran dalam hal etika yang dikenal dengan aliran Naturalisme; aliran yang diprakarsai Zeno [340-264 SM] itu berpendapat bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia adalah manakala manusia itu secara natural mengikuti akalnya dalam mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Jadi menurut pendapat ini hidup manusia harus mengikuti petunjuk akal, dengan mengikuti petunjuk akal berarti telah memiliki etika tinggi.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Epikuros [341-270 SM] berpendapata bahwa ukuran baik buruk terletak pada kelezatan sesuatu dan itu merupakan tujuan hidup manusia. Bila perbuatan manusia menimbulkan suatu kenikmatan dialah orang yang mempunyai moral dan etika yang tinggi. Pendapat ini dinamakan Hedonisme. Pada awal-awal abad kedelapanbelas, J.S. Mill memperkenalkan teori yang baru. Agaknya ada sedikit kemajuan. Teori ini dikenal dengan Utilitarisme. Mill mengemukakan bahwa ukuran baik dan buruknya sesuatu didasarkan atas besar kecilnya manfaat yang ditimbulkan bagi manusia. Dengan pendapat ini ia menghendaki agar manusia menemukan kebahagiaan di tengah orang banyak dengan memanfaatkan diri dan pengorbanannya.

Ada lagi aliran Idealisme. Aliran ini tidak bicara definisi, tapi apa yang ada dibalik etika tersebut. Tokohnya Immanuel Kant [1725-1804]. Ia berpendapat bahwa seseorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan oleh orang lain, melainkan atas dasar kemauan sendiri [atau rasa kewajiban]. Perbuatan baik akan dilakukan juga walaupun diancam atau dicela orang lain karena terpanggil oleh kewajiban.

Sedangkan aliran etika Vitalisme mengukur baik buruknya perbuatan manusia dengan ada tidaknya daya hidup maksimum yang mengendalikan perbuatan itu. Maka, yang dianggap baik ialah orang yang kuat dan dapat memaksakan kehendaknya serta mampu menjadikan dirinya selalu ditaati. Pencetus aliran ini ialah Freedrich Witzche [1844-1900]. Filsafat dalam aliran ini adalah Atheistis. Karenanya Witzche juga berjuang menentang gereja di Eropa.

Itulah beberapa kisah tentang usaha manusia mencari rumusan etika. Semua konsepnya semu, semua ajarannya tidak ada yang menghunjam dalam hati nurani. Lebih jauh, tak sedikit dari konsep etika di atas yang salah. Akibatnya, bukannya terjadi kehidupan manusia yang beretika. Justru sebaliknya terjadi berbagai kehancuran di muka bumi.

Etika yang benar adalah etika yang bersandar kepada kebenaran wahyu. Dalam terminologi etika, etika ini dikenal dengan aliran Theologis. Aliran ini berpendapat bahwa baik buruk perbuatan manusia didasarkan atas ajaran Tuhan yang dibawa para Nabi kepada ummatnya. Etika Theologis inilah yang dalam Islam disebut dengan Akhlak. Ia bersumber dari sang Khaliq.

Dalam Islam perhatian terhadap akhlak sangatlah besar. Selain akan mendampingi ketaqwaan dalam memperbanyak amal di akherat, akhlak juga menjadi perisai bagi eksistensi suatu bangsa. Selain itu, kebutuhan seorang muslim akan akhlak juga untuk penopang iman. Sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, ”Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin ialah yang lebih baik akhlaknya”. Dalam Islam, batasan antara akhlak yang baik dan akhlak yang buruk sangat jelas. Bahkan dengan penggambaran-penggambaran yang vulgar. Lihatlah bagaimana Al Qur’an mengumpamakan orang-orang yang tak berakhlak seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang.

Sebaliknya, Islam memberikan ruang lingkup akhlak yang baik dengan sangat luas. Tidak saja terpaku kepada amal-amal yang kelihatannya sepele. Seperti menyingkirkan duri dari jalanan, menyapa dengan mengucapkan salam ketika bertemu sesama muslim, mendo’akan saudara, dan amal-amal lain yang sangat luas dalam Islam.

Akhlak Islam juga mengajarkan bagaimana seorang rakyat harus bersikap, bagaimana seorang pemimpin harus memimpin, bagaimana seorang ulama harus memberi fatwa. Semua ada aturannya, apakah orang itu pedagang, pekerja, pengarang dan pengusaha, harus berakhlak sesuai dengan profesinya. Buya Hamka mengucapkan, ”Diribut runduk padi, dicupak Datuk Tumenggung, Hidup kalau tidak berbudi, duduk tegak kemari canggung, tegak rumah karena sendr, runtuh budi rumah binasa, sendi bangsa adalah budi, runtuh budi runtuhlah bangsa”.

Banyak orang yang ingin hidup tentram dan damai. Tapi banyak pula dari mereka yang berkiblat kepada tokoh-tokoh pencetus konsep etika dan moral yang salah. Padahal teori-teori itu banyak yang salah. Sumber kebenaran hanya satu yaitu dari Allah Swt, ”Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi ragu” Wallahu A’lam [Majalah Tarbawi Jakarta Edisi 3 / 310819990.

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kabupaten Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros,blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar