Sabtu, 28 April 2012

Untuk apa manusia Beribadah


Oleh Drs. Mukhlis Denros




Seorang petani walaupun terkuras tenaganya, keringatnya bercucuran, rasa letih bukan kepalang, tapi karena yang dilakukan sebagai kewajibannya untuk memenuhi nafkah keluarga maka dia akan bekerja penuh tanggungjawab walaupun tenaga dan keringat sebagai imbalannya. Demikian pula dengan ibadah kepada Allah yang kita lakukan harus tahu untuk apa gunanya kita beribadah, apakah dengan tidak beribadah itu untuk Allah atau untuk manusia, kalau ibadah itu untuk Allah berarti Dia membutuhkan dan bersandar kepada manusia. Sebenarnya ibadah itu untuk manusia, mau iman ataupun kafir seluruh manusia di bumi tidak akan meninggikan atau merendahkan Allah.

Untuk apa manusia beribadah ? Inilah pertanyaan yang membutuhkan jawaban agar ibadah yang kita lakukan, dikerjakan dengan baik dan motivasi yang benar pula.

1. Beribadah Untuk Membina Pribadi
Asal kejadian dan pribadi manusia adalah baik, sebagaimana firman Allah, ”Sungguh Kami telah menciptakan manusia itu dalam sebaik-baik kejadian”, kalau kita bandingkan kejadian kita dengan makhluk Allah yang lain sungguh manusia berada dalam bentuk yang baik, fisik maupun bathinya. Disamping itu manusiapun makhluk yang mulia dan dimuliakan Allah dengan memberikan bekal dalam kehidupan, baik yang berada di laut ataupun di darat, Al Isra’ ; 7 membenarkannya, ”Dan sungguh Kami telah muliakan anak Adam, dan Kami telah beri mereka kendaraan di darat dan di laut”.

Kemuliaan manusia yang diwakili Nabi Adam pada masa itu lebih tinggi dari Iblis dan Malaikat, hal ini terletak dari ilmu pengetahuan yang dimiliki. Manusiapun makhluk yang suci, dilahirkan tanpa membawa dosa dan kesalahan juga tidak mewarisi dosa nenek moyang sebagaimana faham Nasrani. Walaupun dia dilahirkan dari hubungan biologis di luar nikah maka kelahirannya tetap suci tidak terpengaruh oleh perbuatan haram orangtuanya. Dalam sebuah hadits Nabi bersabda, ”Tidak dilahirkan seseorang anak melainkan dalam keadaan suci dari dosa” [HR. Muslim].

Keberadaan manusia yang baik, mulia dan suci tadi akan jatuh ke tempat yang paling rendah karena memperturutkan hawa nafsu atau melakukan dosa, baik besar ataupun kecil, dalam surat At Tin Allah menjelaskan pada ayat 5 , ”Kemudian Kami jatuhkan dia ke tempat yang paling rendah”, kehancuran dapat pulih kembali kepada posisi semula dengan melakukan ibadah kepada Allah, ”Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh [mereka tidak direndahkan] bagi mereka ganjaran yang tidak putus”.



2. Beribadah Untuk Menyukseskan Tugas Khalifah
Ketika Allah menyatakan kepada Malaikat akan mencipakan seorang sebagai khalifah di muka bumi, dengan terkejut malaikat tidak setuju karena kelak manusia akan merusak dan menumpahkan darah sedangkan malaikat setiap saat taat kepada-Nya dengan memuji Allah. Dengan tegas Allah memberikan keterangan bahwa hanya Allah-lah yang lebih tahu tentang keadaan ciptaan-Nya.

Fungsi manusia di bumi adalah sebagai khalifah dengan beberapa arti, dapat dikatakan dia sebagai pemimpin, baik memimpin diri sendiri, disebut juga penguasa di dunia yang mengatur dan mengolah alam ini sesuai dengan kemampuan kesejahteraan hidupnya, disamping itu disebut juga sebagai pengganti Allah, bukan berarti Allah tidak berkuasa lagi di bumi setelah diserahkan kepada manusia akan tetapi menggantikan atau sebagai pembawa misi Allah agar ditegakkan di dunia, Allah berfirman dalam Al An’am 165, ”Dan Dia yang menjadikan kamu sebagai Khalifah di bumi”.

Adapun tugas manusia sebagai Khalifah di bumi dilengkapi dengan beberapa perlengkapan yang begitu urgens dalam kelansungan hidup, yaitu jasmani yang dapat mengeluarkan energi, akal sebagai modal untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan, alam yang harus diolah sebagai potensi yang ada di dalamnya untuk jadi kemanfaatan dan kemaslahatan hidup manusia. Ketiga modal diatas tidak akan menemukan kelanggengan bahkan dapat mendatangkan kehancuran tanpa adanya modal agama [islam] yang mengatur tata kehidupan agar serasi dan pantas sebelum datangnya kehancuran karena ulah manusia yang dikhawatirkan oleh malaikat yaitu perusak dan penumpah darah.

Islam sebagai modal melengkapi tugas khalifah bagi seorang muslim harus dipelajari, diamalkan, diajarkan dan dipertahankan. Semua itu meliputi ibadah yang mendukung suksesnya tugas kekhalifahan.

3. Beribadah Mencari Keridhaan Allah
Orang yang berilmu tidak sama kedudukannya di sisi Allah dengan orang yang bodoh, orang kaya yang dermawan dihargai Allah sebagai orang yang bersyukur berbeda dengan orang bakhil, demikian pula tidak ada perbedaan manusia satu dengan lainnya melainkan ketaqwaannya kepada Allah, hal ini tercermin dalam pengabdian kepada-Nya dengan tujuan akhir keredhaan Allah. Ibadah yang dilakukan bila dimotori dan dimotivasi selain kepada Allah maka nilainya kecil di hadapan Allah bahkan hilang sama sekali, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;272, ”Dan tidak boleh kamu menafkahkan sesuatu melainkan untuk mencari keridhaan Allah”.

Jalan untuk mencapai keridhaan Allah tidak lain beribadah dengan ikhlas sebanyak-banyak kebaikan, Al Baqarah 2;195 menerangkan, ”Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik”.

Dengan mengetahui manfaat dari beribadah kepada Allah dapat menghilangkan kemalasan yang selama ini bersemayam pada diri kita, sehingga tidak ada lagi terbetik bisikan yang menggoda, ”Nanti sajalah, besok atau kapan-kapan, waktunya masih panjang”, gairah akan timbul walaupun agak berat tapi tetap berangkat melaksanakannya karena terdorong untuk pembinaan pribadi agar tetap baik, mulia dan suci, berguna pula untuk mensukseskan kemampuan diri sebagai khalifah di bumi Allah disamping mengharapkan keredhaan Allah di dunia maupun di akherat, wallahu a’lam [Harian Semangat Padang, 19111999].

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kab. Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros,blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar