Selasa, 17 April 2012

Ibadah Menyukseskan Tugas Khalifah

Drs. St. Mukhlis Denros



Kelahiran manusia di dunia ini mengemban tugas mulia yaitu sebagai hamba Allah sekaligus sebagai Khalifah Allah yang berkewajiban mengelola, memelihara dan memanfaatkan alam ini sebagaimana firman-Nya dalam surat Al An’am 6;165, ”Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian yang lain beberapa derajat”.

Tugas ini hendaklah dilaksanakan dengan kesungguhan hati sehingga segala apa yang diamanatkan Allah berhasil sesuai dengan tujuan, surat Al Haj 22;78 Allah berfirman, ”Dan berjuanglah kamu pada jalan Allah dengan berjuang yang sungguh-sungguh”.

Kekhalifahan yang disandang manusia memiliki sekup dan tingkat yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ada yang mampu sebagai pemimpin suatu negara, mengepalai suatu perusahaan dan jabatan bos, sebagai kepala sebuah rumah tangga atau minimal memimpin diri sendiri. Dalam sebuah sabdanya Rasulullah pernah mengatakan, ”Setiap kamu adalah pemimpin, isteri adalah pemimpin rumah tangga dan harta suaminya, suami adalah pemimpin keluarga, seorang budak memimpin amanat yang disampaikan oleh majikannya yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah”.

Dalam HR Ibnu Hibban beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa –apa yang ia pimpin, apakah ia memeliharanya ataukah menyia-nyiakan, sehingga seseorang akan ditanyai tentang urusan keluarganya”.

Sebagai khalifah yang menguasai bumi ini, Allah memberikan perlengkapan kepada manusia berupa jasmani sebagai tenaga untuk mengolah alam, akal untuk menyibak misteri alam sehingga kepemimpinan berjalan dengan baik, alam adalah bekal yang harus diolah sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah. Bekal ini tidak cukup bila tidak diturunkan agama [islam] sebagai perlengkapan yang amat penting untuk mengarahkan jasmani, akal dan alam yang harus manusia pimpin sesuai dengan aturan islam agar mendapatkan jalan keselamatan. Islam bukan sekedar ucapan bibir tapi harus dipelajari, diamalkan dalam ujud ibadah, disyiarkan serta dipertahankan.

Pengamalan islam yang disebut dengan ibadah bukan sekedar urusan shalat, zakat, puasa, haji atau kegiatan dogmatis dan ritual lainnya tapi segala dinamika aktifitas kehidupan manusia untuk mengolah alam sesuai dengan tata aturan, sesuai dengan nilai yang ditunjukkan-Nya. Bila seorang khalifah tidak beriman dan tidak suka beribadah kepada Allah kemungkinan besar penyelewengan jabatan dan kedudukan akan terjadi; seorang kepala keluarga akan mengabaikan anak dan isterinya, seorang buruh atau karyawan akan menyelewengkan amanat majikannya, seorang pimpinan perusahaan akan melakukan korupsi dan manipulasi yang merugikan bangsa dan negara.

Seorang kepala bagian pada sebuah kantor dia akan dihadapkan oleh tantangan, godaan dan ronrongan nafsu sendiri atau gosokan dan gesekan dari pihak lain. Sang isteri tergoda ketika mengetahui bawahan suaminya dapat membeli fasilitas hidup yang serba mewah, hal itu memaksa dirinya untuk merusak kepribadian suami, suatu ketika sang isteri berkata, ”Bapakkan kepala bagian, masa tidak mampu menyamai bawahan sendiri, dapat saja bapak sepak sana terjang sini agar kehidupan kita lebih baik dari mereka, apa tidak malu, bapak ke kantor dengan motor butut sementara bawahanmu dengan mobil mengkilat”.

Bila suami tidak beribadah kepada Allah tentu dia akan melakukan perbuatan di luar aturan demi memenuhi keinginan isteri tercinta, bila ini terjadi berarti tugas kekhalifahan mengalami kehancuran karena dia diperbudak oleh hawa nafsu dan sebaliknya akan mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akherat bila tugas kekhalifahan didasari pengabdian kepada Allah, tercapainya kebahagiaan berarti suksesnya tugas khalifah. Dengan demikian berarti ibadah bertujuan untuk menyukseskan khalifah.

Dalam menyelesaikan tugas hidup ini manusia harus berhati-hati agar tugas yang disandangnya berhasil dengan baik dan sempurna. Ketika Mu’adz bin Jabbal dilantik sebagai Gubernur di Yaman, pesan Rasulullah yaitu;
1. Perbaharuilah perahumu karena laut yang akan dilalui sangatlah dalamnya, yang dimaksud Rasulullah dengan perahu yaitu hati/ jiwa.
2. Perbanyaklah bekal karena perjalanan sangat jauh, bekal disini artinya amal shaleh.
3. Kurangi beban karena perjalanan menakutkan, nabi menjelaskan bahwa beban yaitu kesalahan dan dosa.
4. Ikhlaskan niat karena pengintai lebih awas dan tegas, pengintai yang dimaksud adalah malaikat.

Lebih jelasnya pesan Rasulullah ini yaitu seorang khalifah harus mempunyai hati yang baik dan motivasi yang benar dalam mengelola jabatan, dengan kedudukan yang diberi, gunakan untuk berbuat baik sebagai sarana ibadah dan amal shaleh, tidak layak seorang khalifah mempunyai bekal kesalahan dan dosa apalagi merugikan rakyat, walaupun penipuan dan penyelewengan jabatan yang dilakukan dapat ditutup dari pandangan manusia tapi Malaikat siap mengawasi.

Agar kehidupan dan tugas kekhalifahan untuk hari esok lebih baik dari hari ini, sebagai peringatan Allah menyampaikan dalam Al Hasyar 59;18, ”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap pribadi memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akherat] dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Buletin Risalah Da’wah Al Furqon Solok No. 13/ 1994].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar