Selasa, 17 April 2012

Pertanggungjawaban Manusia di hadapan Allah


Drs. St. Mukhlis Denros
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya”[Al Zalzalah;7-8].

Allah memberikan kepada manusia berbagai macam perlengkapan hidup diantaranya akal agar manusia dapat menimbang, memilih dan memilah antara yang baik lagi benar, yang salah dan keliru sehingga hidupnya terarah dan terbimbing. Modal otak saja tidaklah cukup tanpa iman dengan imanlah manusia dapat mengenal yang tidak dapata dijangkau oleh otak atau akal manusia.

Hidup yang diyakini manusia di dunia ini kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, Hakim Maha Tinggi lagi Maha Adil, sebagaimana diketahui dalam ayat diatas. Walaupun manusia mempersiapkan pengacara yang hebat untuk membela dakwaan atas tuduhan yang diperbuatnya, sedikitpun tidak dapat dielakkan, saksi tidak dapat disogok karena yang bertindah sebagai saksi bukan orang lain tapi anggota tubuh, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat An Nur 24;24-25, “Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yanga dahulu mereka kerjakan. Dihari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah yang Benar, lagi yang menjelaskan segala sesuatu menurut hakekat yang sebenarnya”.

Hadits riwayat Ahmad menyebutkan, “Rasululah sewaktu membaca, “Pada hari itu bumi akan menerangkan peristiwanya”, lalu beliau berkata,”Tahukah kamu apakah peristiwa-peristiwa itu ?” Mereka menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, berkata Nabi, “Peristiwa-peristiwa itu adalah bahwa bumi akan menjadi saksi atas setiap hamba Allah, baik laki-laki atau perempuan, tentang apa yang telah mereka lakukan dipermukaan bumi ini. Bumi akan menerangkan orang ini telah melakukan ini pada hari ini”, nabi berkata lagi,”Nah, itulah peristiwa-peristiwa yang diterangkan bumi itu”.

Begitulah telitinya pemeriksaan tersebut, sampai hal-hal yang sebesar atom sekalipun akan diperiksa. Dan segala macam saksi akan diajukan, bahkan bumi sendiri akan diajukan pula sebagai saksi sehingga manusia ketika itu hanya menyesali dirinya sendiri.

Disinilah manusia mempertanggungjawabkan semua tingkah lakunya lahir dan batin, selama ia di dunia dahulu, apakah sesuai dengan aturan Allah apa tidak. Kalau sesuai itulah yang baik, kalau tidak itulah yang buruk. Setelah pemeriksaan ini selesai, lantas Allah menjatuhkan vonisnya, apakah seseorang itu masuk syurga atau neraka. Tetapi Allah yang Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya, sebelum vonis itu dibacakan masih diberikan kesempatan kepada orang-orang tertentu seperti para Rasul, orang-orang alim dan syuhaha’ untuk memberikan syafaat [pertolongan pembelaan] kepada orang-orang tertentu pula, agar hukumannya diringankan atau dibebaskan sama sekali dari hukuman, “Pada hari itu tidak bermanfaat syafaat kecuali orang-orang yang telah diberi izin oleh Allah dan diridhai perkataannya”[Thaha;109].

Jadi Allah telah berlaku Maha Bijaksana dengan memberikan segala aa yang diperlukan manusia selama menjalankan tugas hidupnya, kemudian diadili dengan seadil-adilnya, serta diberikan pula pertolongan secukupnya waktu diminta pertanggungjawabannya kembali sehingga dengan demikian kalau ada juga yang masuk neraka, itu benar-benar kelalaian dan kesalahannya sendiri.

Sebelum Allah memutuskan vonis kepada manusia sebenarnya telah ada beberapa petunjuk agar manusia berhati-hati di dunia dalam mengisi restan umur yang diberikan, agar kehidupan manusia terarah dan terkontrol suatu pedoman diberikan, kalau pedoman ini tidak diindahkan bahkan orang yang memberi ingat tidak dianggap peringatannya lalu di akherat menemu kesengsaraan itu akibat kelalaian dan kesalahan mereka, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” [Al Insan 76;3].

Jelasnya ayat ini menyatakan bahwa Allah sudah memberikan petunjuk dan bimbingan, ada yang menunjukkan kearah yang benar dan ada pula ke arah yang salah, ada ke arah yang baik dan ada pula ke arah yang buruk dan seterusnya. Kepada manusia diberikan hak untuk memilih, mana diantaranya yang akan ditempuh, dengan akalnya sendiri. Kalau manusia menempuh jalan yang benar atau baik, maka berarti dia mensyukuri hidayah itu. Tetapi kalau ia menempuh jalan yang salah atau buruk berarti dia telah menutupi hidayah itu.

Kadangkala manusia dengan kesibukan mencari kesenangan dunia dapat berhubungan baik dengan relasinya sehingga keuntungan dunia digenggamnya, tapi sayang dia tidak menyadari, lagi melupakan eksistensinya sebagai hamba yang telah lama memutuskan hubungan dengan Khaliq, Allah Penciptanya, sehingga jiwanya kosong, iman tergadai dengan mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, halal dengan yang haram. Padahal sebagai manusia harus tetap memegang petunjuk hidup bahwa segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, kalau hubungan dengan Allah taidak terjalin apa yang dapat diandalkan ketika menghadap-Nya.

Yang dimaksud manusia dengan Allah, sesuai dengan apa yang diterangkan didalam Al Qur’an bahwa hidup, matinya, shalatnya dn semua amal ibadahnya hanya karena Allah, “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’’[Al An’am;162].

Nabi Muhammad Saw telah menerangkan dalam beberapa buah hadits tentang hubungan hamba dengan Allah yang dapat menghilangkan prasangka tadi. Apabila difahami sabda Rasulullah, kita memahami makna hubungan dengan Allah, Rasulullah bersabda, “Takut kepada Allah dalam keadaan sunyi dan di tengah orang banyak”, “Apa yang ada di tangan Allah kau lebih yakin dari apa yang ada pada tanganmu”, “Kau menuntut keredhaan Allah kendatipun orang membenci”.

Sebaliknya mengharapkan redha manusia kendatipun Allah membenci. Kemudian hubungan ini kalau sudah kuat, lahirlah suatu sikap; mencintai, membenci,mencegah dan memberi, semuanya karena Allah, tidak disertai sedikitpun dicampuri dengan nafsu, dengan cara ini sempurnalah hubungannya dengan Allah, Rasululah bersabda,”Barangsiapa yang mencintai karena Allah, tidak memberi karena Alah, sesungguhnya sempurnalah imannya”.

Bila hubungan yang harmonis dengan Allah telah terjalin, tidak ada kesusahan dan kesedihan karena imannya telah mengangkat derajat hidupnya ke tempat yang tinggi sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran 3;139, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman” [Tulisan ini pernah dimuat pada Buletin Risalah Da’wah Masjid Al Furqon Kota Solok nomor 166].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar